Rabu, 03 Februari 2010

Sayap Patah Cintaku

Aku tak sanggup lagi mengejarnya. Ia telah terbang tinggi dan pergi menjauh. Sedangkan aku tertinggal di sini menahan luka. Meradang menahan sakit akibat luka yang ia pahat sebelum tinggalkanku.
Ah, andai saja tubuhku tak luka. Andai saja sayapku tak patah. Andai saja sayapku dapat mengepak kuat. Aku akan terbang lagi mengejarnya, kemana pun ia pergi!
Namun, itu sepertinya hanyalah angan kosongku saja. Angan makhluk yang tak lagi punya daya dan kuasa. Selain berharap khayalan itu jadi nyata.
Aku tak tahu kenapa ia pergi meninggalkanku. Sungguh aku tak tahu kenapa? Aku pun bingung dibuatnya. Ia pergi meninggalkanku di saat kuncup – kuncup bunga hatiku siap mekar dengan segala keindahan dan keharuman cintaku padanya. Ia pergi di saat asmaraku bertahta di atas singgasana cinta. ia pergi di saat aku masih sayang dan membutuhkannya. Menorehkan sebuah luka di hati terdalam.
Rasa cinta dan sayangku sangat besar padanya. Rasa itu tak pernah padam, apalagi mati. Aku pun memutuskan untuk mencarinya. Berkelana mencari cintaku yang telah hilang. Mengepakkan sayap menjelajahi angkasa raya. Sampai sayap sebelah kananku patah. Dan aku terdampar di sini.
Aku telah menjelajahi dirgantara. Menembus awan, menghalau terik matahari, menerjang hujan dan badai. Aku mencarinya hingga sayap sebelah kananku patah. Aku mencarinya hingga aku terdampar di sini, di pulau kecil yang tumbuh sendiri di tengah luasnya samudera. Aku terdampar dalam sunyi mencarinya di pulau terasing dan sepi. Dalam kesunyian, aku tercelup seorang diri.
Aku mencoba bertahan dalam sunyi. Berjalan menapaki hari esok yang suram. Semua karena cinta. membuatku masih bisa berdiri, walaupun terhuyun menyangga raga.
Matahari terus bersinar riang. Cahayanya coba terangi sudut jiwaku yang gelap. Kulihat awan – awan menggantung di langit biru. Awan – awan itu berkumpul laksana mozaik – mozaik alam melukis sketsa wajah bidadariku yang telah pergi di lizuardi tanpa kaki. Aku pun jadi ingin bertemu dengannya. Bertanya, berbincang, berdua kembali seperti dulu, bersama berenda kasih dalam ikatan halus benang cinta. Dalam sunyi, aku terpenjara rinduk tak bertepi.
Aku tak tahu mengapa harus begini. Sungguh aku tak tahu! Rasa ini begitu perih. Hatiku sakit dengan luka tak terperi.
Hilang satu yang terindah dalam hidupku. Membuatku luluh lantak berserak tak tegak. Seperti tercabut separuh jiwa. Sungguh menyakitkan! Sangat menyakitkan dengan luka tak terperi, terus membesar dan berbekas. Masih sanggupkah aku bertahan? Pertahankan cinta ini.
Hari esok seperti bola lampu lima watt, bercahaya redup merah padam. Aku menunggu yang tak pasti di pulau asing ini. Mungkinkah ini tempat terakhirku menginjakkan kaki? Jangan sampai! Ini terlalu pedih.
Aku tak pernah membayangkan akan seperti ini. Mengalami ujian terberat dalam hidupku, ujian yang sedang aku alami. Seperti vonis mati yang dieksekusi dengan pelan – pelan, menyicil rasa sakit yang sangat pedih sampai ajal datang menjemput.
Mengapa aku harus menanggung ini semua? Bukankah cinta itu indah? Mengapa bunga – bunga cinta itu kini harus menjelma jadi pohon – pohon kaktus berduri tajam yang mengganjal hatiku? Mengapa?!
Bumi tak menjawab. Langit tak menjawab. Pepohonan bungkam. Semua diam membisu. Hanyalah desir angin yang kudengar pelan berhembus menuntun langkahku.
Dengan tertatih aku melangkahkan kami. Berjalan ke mana kaki ini membawaku pergi. Kutahan semua rasa sakit. Terus berjalan mencari kehidupan di sini. Aku tak ingin berputus asa. Aku tak mau mati di sini sendiri. Aku yakin di sini ada kehidupan. Walaupun, sudah satu minggu aku menjelajahi pulau ini, dan tak menemukan makhluk apapun, selain lebatnya pohon – pohon yang menyusun rindangnya hutan belantara.
Lukaku semakin parah. Darah – darah segar menetes keluar dari sayapku yang patah. Aku tak kuat lagi berjalan. Rasa ini terlalu sakit. Kakiku pun lecet dan lebam. Di bawah pohon rindang dekat bibir pantai aku memilih istirahat.
Kepalaku pusing tujuh keliling. Pandanganku kabur. Samar kulihat corak alam yang terhampar di hadapan, buram hitam putih.
Aku mengedarkan pandanganku yang buram ke segala penjuru. Tak sengaja ekor mataku menangkap sosok aneh di tengah laut.
Aku bangkit berdiri. Aneh, kepalaku tak lagi pening. Pandanganku kembali normal. Kali ini dengan jelas aku dapat melihat makhluk itu. Seperti kucing. Ya, anak kucing yang tercebur meronta – ronta, mencoba untuk selamatkan diri.
Lalu, aku melihat seekor anjing kintamani hitam keluar dari hutan dan berlari kencang kearah laut. Anjing itu berenang menyelamatkan anak kucing yang hampir tenggelam.
Ini sungguh aneh, tapi ini nyata. Aku menyaksikan seekor anjing menyelamatkan anak kucing. Bukankah anjing sama kucing itu musuh bebuyutan?
Dengan perasaan heran aku mendekati mereka. Merekalah yang selama ini aku cari, makhluk hidup penghuni pulau asing ini selain pohon.
Anjing itu menjemput kedatanganku dengan tatapan tajam. Aku seperti dilumatnya mentah – mentah.
“Kenapa? Kau heran melihatku melakukan ini semua?!” Kata anjing itu terdengar jelas di telingaku. Aku kaget tak kepalang. Anjing itu bisa bahasa manusia. Lidahku kelu untuk berkata. Aku masih kaget. Aku tak bisa menjawabnya.
“Aku tahu, kau pasti kaget melihatku melakukan ini semua, dan aku bisa bicara dengan bahasamu?” Tanyanya menohokku.
Lidahku masih terasa kelu. Aku masih tak bisa bersuara. Dengan mengangguk aku menjawabnya.
“Aku adalah penjaga pulau ini. Aku wajib melindungi semua makhluk yang ada di pulau ini dengan penuh cinta.”
“Tapi, bukankah kucing itu adalah musuh abadimu?” suaraku keluar melontarkan pertanyaan.
Anjing itu tersenyum. “Itulah cinta. ia tak pernah melihat siapa yang ia berikan kasih. Dan ia tak pernah berharap menerima, hanya memberi dengan sepenuh jiwa.”
“Cinta?” Ucapku tak mengerti.
“Hai, orang asing. Ketahuilah, siapa yang hidup bagi dirinya sendiri, ia akan hidup sebagai manusia kecil dan mati sebagai orang kecil. Tapi, siapa yang hidup bagi orang lain, ia hidup sebagai manusia besar dan takkan mati selamanya. Kau hanya manusia kecil yang cinta hanya pada dirimu saja.” Ujarnya.
“Tidak!!! Aku mencintai bidadariku sepenuh hati. Aku mengejarnya hingga aku terdampar di sini.” Tukasku membantahnya.
“Itulah bukti kalau kau hanya cinta pada dirimu sendiri. Kau begitu sakit ditinggal pergi pasanganmu sampai kau tak peduli pada orang – orang di sampingmu. Kau tak peduli pada orang – orang yang telah memberikan cintanya sepenuh hati untukmu. Hingga kau terdampar di sini, terpenjara dalam sunyi dan kerinduan teramat dalam yang kau buat sendiri dalam pikiranmu.” Jawabnya.
“Apa?!!”
“Iya. Tempat ini adalah penjara bagi orang – orang sepertimu. Kau akan terpenjara di sini sampai kau bisa keluar dari kematian perasaanmu, sampai kau bisa merasakan hadirnya cinta di sekelilingmu, sampai kau bisa mempersembahkan cinta pada semua makhluk di muka bumi ini, tanpa ada harap menerima.” Kata Anjing itu sambil berlalu pergi meninggalkanku.
Persendianku terasa lemas. Tubuhku amblas jatuh ke pantai berpasir putih. Apa maksudnya ini?
“Kau tidak hidup untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk orang lain yang ada di sekitarmu. Coba lihat dirimu! Memenjarakan diri dengan tak mendengarkan apa isi hati orang – orang yang ada di sekitarmu!” Kucing yang tadi diselamatkan anjing kintamani itu mengeluarkan suaranya, berujar.
Aku tertunduk mendengarnya. Aku sudah bisa menerima kenyataan ini. Benar, aku tak hidup untuk diriku saja, tapi juga untuk orang lain. Benar aku telah begitu sakit hati ditinggal pergi bidadariku.
Tapi, aku ingin jadi orang kerdil. Aku tak mau terus berada di penjara ini. Aku harus bangkit. Harus!!!
Langit biru begitu bersih terhampar. Aku harus kembali ke dunia nyata. Harus! Aku akan belajar mempersembahkan cinta setulus hati, tanpa ada harap menerima. Sambil mengobati sayap patah cintaku. Aku akan kembali terbang ke duniaku. Aku akan kembali!

Kamis, 03 Desember 2009

Malaikat di kota Kematian

Mengenang 1 Tahun Agresi keji Israel ke Jalur Gaza Palestina

Malaikat di kota Kematian

Ahmad-Yunus

Desauan angin gurun ini bagaikan denting dawai – dawai lara. Begitu pilu dan mencekam. Bersimfonikan lagu kematian. Sesekali diselingi gelegar besar yang menggetarkan bumi. Lalu asap hitam tebal mengepul tinggi dan puing – puing pun gugur berserak.

Gaza retak. Hancur berkeping terserak. Ia ditangisi alam begitu sendu. Meraung – raung ambulans yang tak pernah henti lalu lalang, penuh korban luka, tak jarang mayat – mayat tak utuh dan terbelah.

Gaza kini menjelma bagai kota kematian. Pengap bau amis dan banjir merah darah. Hari – demi hari selalu jatuh korban di tanahnya. Dan malaikat Maut hilir mudik menjemput jiwa – jiwa letih. Entah sampai kapan?

“Biadab!” teriak Layla geram diikuti kepal kedua tangannya mengadu meja dengan keras.

Tatapan wanita berjiblab itu nanar. Matanya basah. Hatinya begitu terpukul dengan apa yang dilihatnya. “Ini pasti senjata kimia. Begitu keji mereka membunuh warga – warga tak berdosa bukan hanya dengan dengan rudal dan bom, tapi juga senjata kimia.”

Layla kembali menatap anak kecil yang terbaring di depannya. Bocah itu terlelap dangan kondisi sangat memprihatinkan. Wajah babak belur, kumal penuh debu dan darah. Tapi, yang lebih menyayat hati Layla, adalah mata bocah itu dan kedua kakinya. Kedua matanya buta dan kedua kakinya hrus diamputasi akibat luka bakar sangat parah, luka bakar serius sampai ke tulang yang ia prediksi berasal dari bahan kimia.

Melihat anak itu bayangnya melayang jauh meninggalkan Gaza. Kembali ke rumah mungilnya di Indonesia. Sosok Fatih berlari – lari dengan riang dan si kecil Nadya merangkak ke arahnya.

Layla tersenyum. Ia begitu rindu anak – anaknya. Di lihatnya kembali anak kecil yang sedang dirawatnya itu. Mata Layla langsung gerimis menatapnya, serasa itu Fatih, anaknya sendiri yang terbaring dengan kondisi mengenaskan seperti itu. Ibu mana yang tidak akan tersayat hatinya melihat sang buah hati terkapar penuh luka? Ibu mana yang tega tertawa dengan penderitaan anak – anak kecil korban perang?

Para ibu di Palestinalah yang merasakan betapa pedihnya kehilangan anak. Setia dengan duka nestapa bertahun – tahun. Ketika ibu – ibu di belahan dunia lain menyisir dan mengelus kepala anak - anak mereka dengan penuh kasih sayang sebelum sekolah. Para ibu di Gaza mengusap kepala anak – anak mereka yang merah sebelum pemakaman. Dan Layla sangat tahu itu.

“Madame Layla,” panggil dokter Sawqi membuyarkan perhatian Layla. “Maaf, minta bantuannya segera,”

“Iya, dok” sahut Layla sigap. Segera ia beranjak dari tempatnya. Lalu wanita berjilbab lebar itu berjalan tergesa – gesa mengejar langkah dokter Sawqi.

Ada apa, dok?” Tanya Layla.

“Sekolah PBB tempat warga mengungsi di bom Israel. Banyak jatuh korban.”

“Apa?” Layla terpenjat keget. Gigi – giginya bergemeretak. Tangannya mengepal keras. Biadab!, desah Layla dalam hati.

***

Peluh mengucur deras dari dahi Layla. Ia rasakan matanya begitu perih. Merah padam. Waktu istirahatnya sangat kurang semenjak bertugas di sebuah rumah sakit di kota Gaza. Tapi, ada sebuah rasa yang begitu menggebu dan terus menerus memberikan tenaga tambahan untuknya. Entah rasa apa itu? Ia tak peduli! Yang terpenting baginya adalah memberikan pertolongan terbaik untuk warga Gaza.

Dari waktu ke waktu Layla jadi begitu akrab dengan kondisi serba darurat. Tak ada air bersih, tak ada kasur, tak ada makanan dan tak ada hidup yang nyaman. Aroma perang pun akrab menjadi teman. Ledakan bom, raungan ambulans, tangisan korban, dan tatapan bisu tubuh lemah tak berdaya.

Layla Kamil, itu nama yang diberikan kedua orang tuanya. Dokter lulusan sebuah universitas ternama di Indonesia. Seorang dokter wanita yang menyerahkan seutuh usianya untuk jadi relawan. Ingin berarti bagi manusia dan kemanusiaan.

Ia adalah satu – satunya wanita yang berangkat ke Gaza untuk menjadi relawan bersama tiga orang lainnya dari sebuah lembaga kemanusiaan. Tepat, satu minggu setelah agresi militer Israel ke Jalur Gaza. Dan satu – satunya relawan yang berhasil masuk ke Gaza lewat terowongan bawah tanah tepat sebelum Israel menjatuhkan bomnya yang langsung mengubur rata terowongan bawah tanah itu, sementara tiga temannya tertahan dan tidak bisa masuk Gaza, mereka pun akhirnya kembali dan tertahan di perbatasan. Jangan harap bisa masuk Gaza lewat jalur resmi.

“Bila ada sesama manusia yang terjepit, apalagi dalam kondisi perang, tanpa ada yang peduli dan mereka diabaikan, misi kemanusiaan akan tetap dilakukan dengan segela resikonya. Tak peduli apapun itu termasuk nyawa.”

Begitu tekad Layla, saat melihat kondisi yang sangat memprihatinkan di Gaza lewat layar televisi. Dan ia segera memenuhi penggilan kemanusiaan itu.

***

Korban terus berjatuhan. Gaza semakin mencekam. Tak ada satu tempat pun yang aman di Gaza. Dan tiada yang bisa membuka blokade Israel selain roh, arwah para korban yang terbang tinggi menembus batas.

Dan dunia kelu. Tak ada suara lantang dari pimimpinan dunia yang menentang. Apalagi pembelaan yang dilakukan oleh Negara yang menyebut dirinya sebagai kampiun demokrasi dan pahlawan HAM.

“Ke mana mereka? Tak lihatkah di sini begitu mencekam. Nyawa manusia begitu tak berharga untuk hidup. Masih belum cukupkah korban jiwa yang jatuh?” kata Layla begitu emosional saat wawancara dengan wartawan sebuah televisi yang meliput kondisi Gaza.

Layla begitu geram. Tak punya hatikah mereka? Tak mengertikah mereka jikalau panggilan kemanusiaan harus dijawab.

***

Gaza makin kritis. Asap – asap putih penuh racun menyelimuti kota. Gedung – gedung tinggal bongkahannya saja.

Tragisnya, obat bius sudah tak bersisa. Terpaksa semua korban perang yang dirawat harus merasakan pedihnya operasi. Menahan rasa sakit saat pisau bedah merobek kulit dan menyayat daging. Sementara obat – obatan yang lainnya, jumlahnya terus menipis. Rumah sakit pun tak ubahnya tenda darurat tanpa kasur. Kondisi yang sangat menyakitkan bukan hanya bagi para korban, terlebih Layla yang merawat korban – korban itu. Kondisinya sangat tragis, tak seperti prosedur – prosedur yang ia dapatkan di bangku kuliah.

Apalagi kini, serangan Israel makin merajarela. Tak kenal mana itu masjid, rumah, sekolah, ataupun tempat pengungsian, semuanya jadi target serangan termasuk rumah sakit tempat Layla mengabdikan diri hancur berkeping.

Layla terpaksa dievakuasi. Ia dipindahkan ke rumah sakit lain yang tidak di serang Israel. Mobil ambulans serasa terbang membelah jalanan kota yang mencekam. Aroma kematian bergitu tercium jelas. Rentetan tembakan bertalu – talu memecah kesunyian.

Mobil ambulans yang ditumpangi Layla dan beberapa pasien sekarat itu tiba – tiba berhenti di tengah perjalanan. Ketakutan langsung menyergap semua pemupang mobil itu. Lalu cacian meluncur deras dari luar mobil, menyuruh dengan kasar semua orang yang ada di dalamnya untuk keluar. Layla beserta penumpang ambulans keluar dari mobil. Ternyata mobil mereka diberhenkan dengan paksa oleh pasukan Israel.

“Kau dokter?” tanya seorang serdadu Israel yang bersenjata lengkap dengan nada membentak pada Layla.

“Iya,” jawab Layla.

“Cepat tolong teman kami yang kena peluru!” bentak serdadu itu pada Layla.

Layla melihat seorang serdadu Israel tengah terbaring merintih kesakitan. Dari lengan kanan serdadu itu keluar darah. Layla mendekatinya.

Layla kelu. Berbagai rasa berjejal dalam rongga dadanya. Ingin sekali ia mengabil batu yang tergeletak di dekatnya. Lalu batu itu ia hujamkan ke kepala serdadu Israel itu. Biar pecah kepala serdadu itu. Ingin sekali itu ia lakukan. Biar mereka tahu rasa kesakitan sebelum mati. Biar mereka menerima azab dari tangan Layla dan terbalaskan semua rasa sakit dari orang – orang yang selama ini ia rawat akibat senjata Israel.

Tiba – tiba saja Layla terbang. Ia melayang. Terbang melintasi bumi.

Rumah. Ini rumahku, bisik Layla dalam hati. Dilihatnya Fatih tengah asyik mendengarkan cerita Abinya.

”Ada Ali bin Abi Thalib yang tidak mau membunuh musuhnya karena musuh ini meludahinya. Ali takut kalau dia membunuh musuhnya itu karena didasarkan balas dendam.”

Layla tersentak. Ia kaget. Lalu pikirnya kembali melayang jauh ke masa lalu. Ia kembali ingat petuah dari dokter Rijal saat masuk jadi relawan

”Ingat bahwa dalam memberikan pertolongan apa yang kita berikan berdasarkan urgensi. Tidak lihat latar belakang agama, etnik, ataupun politik.”

Layla tergugu. Ia diam membatu.

”Hei, cepat tolong teman kami!” teriak salah serdadu sambil memukulkan senjatanya ke bahu Layla.

”Akh...”

Layla membuka peralatannya. Ia biarkan rasa sakitnya akibat pukulan serdadu Israel. Dengan cermat ia tolong serdadu israel yang tengah terluka itu. Tak peduli betapa kejinya mereka membunuhi rakyat Gaza. Karena pertolongan harus diberikan berdasarkan urgensinya, bukan dendam dan amarah.

“Untuk apa luka ini? Untuk keutungan siapa semua duka ini?,” Layla terus bertanya tanpa ada yang bisa jawab. Sementara langit Gaza kelabu.

Januari 09

Inspirasi dari sebuah wawancara dr. Jose Rijal Jurnalis

Minggu, 01 November 2009

lomba film, komik, esai dan resensi film di UI BOOK FAIR 2009

Formasi FIB UI mempersembahkan Rangkaian acarqa UI BOOK FAIR 2009.adapun untuk lomba adalah sebagai berikut:

Film Pendek
Terbuka untuk umum, baik perorangan ataupun kelompok (maks. 3 orang)Bukan merupakan film dokumenter dan bukan merupakan kumpulan slide foto maupun video klip musik.Film yang diikutsertakan berdurasi 7-15menitFilm yang dikirimkan bukan merupakan hasil rekaman dari hand phone.Film yang diikutsertakan belum pernah memenangkan kompetisi atau
festival film lain dan bukan merupakan karya yang meniru film lain
(dalam hal isi cerita) dan boleh merupakan produksi sebelum tahun 2009.Tidak mengandung unsur SARA dan fornografiPeserta mengirimkan identitas singkat dan nomor yang dapat dihubungiBiaya Pendaftaran Rp 20.000
Komik Islami
Ketentuan Umum :

1.Peserta terbuka untuk umum
2. Peserta lomba adalah perorangan
3. Karya yang diikutsertakan dalam lomba ini harus karya asli, bukan
saduran atau jiplakan atau mengambil karakter dan cerita dari komik
yang sudah ada.
4. Karya belum pernah dilombakan/ diterbitkan/ dipamerkan.
5. Peserta mengirimkan identitas singkat dan nomor yang dapat dihubngi

Ketentuan Teknis :

1. Komik dibuat di atas kertas ukuran A4 (vertikal), tidak diperkenankan menggambar di kedua sisi kertas (bolak-balik) .

2. Jumlah keseluruhan 10 halaman termasuk cover. Jumlah dan ukuran gambar dalam setiap halaman bebas.

3. Teknik gambar dan pewarnaan bebas.

4. Komik dilengkapi dengan teks singkat dan menggunakan bahasa Indonesia..

5. Komik tidak menyangkut unsur SARA dan pornografi.

6. Komik dikirimkan dalam bentuk hard copy

Resensi Novel

Ketentuan:
Merupakan karya orisinil/ buka jiplakanPanjang resensi minimal 1 halaman A4.Font TNR, size 12 spasi 1.5, semua margin 3 cm.Novel yang diresensi bebas (pilih salah satu) Karya Darwis Tere-Liye.Lomba dapat dikirim via email : ui.book.fair@ gmail.com Peserta mengirimkan identitas singkat dan nomor yang dapat dihubungi

Esai
Karya belum pernah dipublikasikan sebelumnya.Format kertas A4, Font TNR, size 12, spasi 1.5, semua margin 3 cmPeserta lomba adalah perorangan.Bukan karya jiplakan, saduran, dan terjemahan.Panjang naskah 3-6 halaman.lomba dapat dikirim via email : ui.book.fair@ gmail.comPeserta mengirimkan identitas singkat dan nomor yang dapat dihubungi


Batas Maksimal Pengiriman Lomba Tanggal 21 November 2009
Pengumuan lomba : tanggal 24 November 2009 (acara puncak UI Islamic Book Fair)


NB: untuk Lomba Film dan Komik kami tidak menerima kiriman via email
tetapi langsung ke stand lomba UI Islamic Book Fair di Musholla
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (Senin-Jumat,
pukul 09..00-18.00 WIB)
CP : 085693080124 / 085287972964


*Jika ada perubahan dari pengumuman ini akan segera di update oleh admin.
Dan apabila ada pertanyaan terkait lomba dapa di kirimkan via email : ui.book.fair@ gmail.com atau FB Formasi FIB UI

Minggu, 25 Oktober 2009

Cinta Itu Memang Aneh...

Aku tak tahu harus berbuat apa dengan rasa ini. Tiba – tiba saja datang tanpa diundang, membuat perasaanku tak menentu. Apakah ini yang dinamakan cinta? Entahlah, aku tak tahu jawabnya pasti!
Hanya saja, entah kenapa? Tiap kali aku melihat sosok wanita yang penampilannya menurutku sempurna itu, jantungku langsung berdebar. Ada ingin untuk selalu bisa dekat dengannya. Ada ingin untuk bercakap dengannya. Ada rasa kekaguman yang menawan hati untuk menyanjungnya. Apakah ini yang dinamakan cinta?
“Cinta merupakan karunia Ilahi, hadirnya tanpa diundang, tiba-tiba kita sadari ia kuat tertanam laksana akar pohon yang rindang. Menggetarkan jiwa, menggelorakan semangat dan rasa. Dunia pun menjadi aneh dibuatnya.” Begitulah ungkapkan tentang cinta yang kudapat dari sebuah buku.
Sousan Mumtaz. Namanya indah seperti orangnya. Dialah wanita yang telah menawan hatiku. Wajahnya yang putih bersih, cantik nan jelita dengan lesung pipi indah yang menawan hati. Matanya bulat bening berwana coklat, teduh namun tajam menatap dunia. Bibirnya merah muda, halus menawan. Senyumnya tulus menganggumkan, menambah kecantikan paras wajahnya. Suaranya lembut mendayu, tenang namun menghanyutkan. Ia semakin terlihat anggun dengan mahkota jilbabnya. Ditambah lagi dengan pandangannya yang luas. Otak yang cerdas. Akhlaknya pun sungguh sangat menawan. Semuanya ada padanya. Kecantikan yang menawan dibalut busana surgawi dengan bingkai akhlak imani dan pikiran yang cerdas. Sesuai dengan namanya, Sousan Mumtaz, teratai yang istimewa.
Pertama kali aku kenal dengannya adalah saat sebuah acara di kampus. Saat tingkat pertama dulu. Dari perkenalan itulah kemudian aku kenal dengan baik siapa dia, walaupun saat itu sampai sekarang hubungan aku dengannya hanya sebatas teman. Dan aku pun jarang sekali berinteraksi secara langsung dengannya. Namun, wajahnya yang cantik menawan, tutur katanya yang sopan dengan suara lembut mendayu saat aku berbincang dengannya, dan pikirannya yang matang dalam memandang suatu masalah lewat tulisan – tulisannya yang kubaca di berbagai media. Membuat bibit rasa ini tumbuh, perasaan cinta yang sekarang menderaku tumbuh semakin lebat.
Kurasakan getar hatiku manakala bercerita penuh harap kepadanya. Ia laksana kilau permata yang penuh cahaya dimataku. Mencintainya ibarat kuncup bunga hati yang siap untuk mekar dengan keharumannya yang memikat.
Aku jadi ragu untuk mengungkapkan perasaanku ini padanya. Apakah ia mau menerima cintaku. Aku hanya seorang lelaki biasa, sedangkan ia seperti mahadewi yang menjadi rebutan para arjuna. Dia cantik, cerdas, berakhlak menawan, dan anak orang kaya yang memiliki jabatan. Diriku hanyalah anak kuliahan biasa, aku juga tak terlalu cerdas dan aku anak seorang petani miskin dari desa yang bekerja keras untuk membiayai kuliah anaknya. Cintaku seperti punguk merindukan bulan.
Tapi, bagaimana dengan rasa ini? Aku sudah tak sanggup lagi menahannya. Tiga tahun aku kenal dengan dia. Sudah dua tahun ini rasa cinta itu tumbuh dan terus tumbuh semakin lebat. Buku yang kubaca, tapi wajahnya yang hadir berkilatan. Suara angin mendesir pun berubah menjadi suaranya yang lembut dan tenang. Kalau tak segera kuungkapkan rasa ini, bisa gila aku dibuatnya!
aku ingin mengutarakan cintakan. mengatakan seperti pusisinya Sapardi. ah Sousah,

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Aku mengumpulkan keberanianku. Rasa cinta ini menggelorakan semangat dan perasaanku. Kutuliskan surat cintaku di secarik kertas. Siang ini akan aku berikan padanya. Selepas rapat sebuah organisasi.
Sousan, Sebagaimana Allah menghadirkanku ke dunia ini dengan rasa cinta, melalui perantara seorang ummi yang penuh kasih, karena itulah, rasa yang begitu kuat terpatri di Qalbuku adalah rasa cinta (ingin dicintai dan mencintai).
Aku tumbuh laksana tunas pohon kecil yang mengeluarkan dedaunannya dan ketika kuncupnya menyembul. Bersama itu pula timbul hasrat dihatiku untuk mencari pasangan hidup, teman berbagi suka dan duka di alam ini.” Aku membaca kembali kata – kata dalam secarik kertas, kalimat yang kucontek dari sebuah buku yang akan aku berikan pada Sousan bersama setangkai bungan mawar.
“Sousan.” Panggilku saat ia keluar dari sebuah ruangan.
“Assalammu’alaikum. Faris, ada apa?” Sapanya lembut.
“Wa’alaikum salam. Aku…ee..” Mulutku terasa gagap, aku tak sanggup bicara padanya, melihat wajahnya pun aku tak sanggup.
“Faris, kamu ingin bicara apa padaku?” Tanya Sousan penasaran.
“Aku…ini untukmu!” Aku memberikan amplop berwarna biru langit dan setangkai bungan mawar padanya.
Kulihat Sousan mengernyitkan dahi. Sejenak ia terpaku menatap amplop dan bunga mawar yang kuberika padanya. Persendianku terasa lemas, seperti menunggu sebuah vonis darinya. “Ini untuk apa?” Tanya Sousan sambil mengangkat amplop dan bunga mawar itu dengan kedua tangannya.
“Itu tentang perasaanku!” Jawabku singkat sambil berlalu meninggalkannya.
***
Hatiku berdebar semakin kencang. Tanganku bergetar memegang sepucuk surat dari Sousan. Perlahan kubuka surat itu dan kubaca isinya:
Assalammu’alaikum.
Sungguh aku sangat berterimakasih kepadamu yang telah mencintaiku. Jujur, aku sangat senang ada orang yang telah mencintaiku sepenuh hatinya. Hanya saja perlu kau ketahui bahwa aku tidak memerlukan seorang pacar, yang aku butuhkan adalah seorang lelaki untuk menjadi suamiku. Dan aku TELAH DIJODOHKAN dengan seorang LELAKI PILIHAN kedua orang tuaku. Yang tak bisa aku menolaknya karena keputusan kedua orangtuaku, kuyakini sebagai keputusan yang terbaik bagi diriku. Orangtuakulah yang lebih tahu tentang aku sebagai anaknya. Lelaki itu pun telah meminangku. Kau tahukan! Seorang lelaki tidak boleh meminang diatas pinangan saudaranya.
Namun satu hal yang harus kau ingat! TAK SELAMANYA CINTA ITU HARUS MEMILIKI. Ibarat Qalbu yang bebas bergerak tanpa bisa ku cegah. Karena ia hidup sebagaimana arus air yang mengalir. aku saja tak dapat memiliki hatiku, apalagi orang lain? Yang berhak memilikinya adalah Allah.
Sesungguhnya cinta dijadikan Allah di dalam Qalbu. Keindahannya akan kau temukan manakala kau dapatkan hatimu mencintai Allah. Tak ada satu pun yang sempurna di muka bumi ini kecuali diri Nya. Cobalah kau pahami firmanNya:
Laa tahzaan wa laa takhaaf, Janganlah sedih dan janganlah takut, Innallaahaa ma’ana, Sesungguhnya Allah bersama kamu.
Betapa dengan sayang Nya Ia berkata: ‘Thayyibaa tu litthayyibiina watthayyibuuna litthayyibaati’ Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS.An Nur 24:26).
Terimakasih atas perasaan cintamu padaku. Tapi maaf, aku telah dijodohkan dan dipinang oleh lelaki lain. Masih ada wanita lain yang dapat kau pilih untuk menjadi pendamping hidupmu. Yang aku yakini sesuai Firman Nya adalah Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik.
Mataku basah membaca surat itu. Cintaku kandas. Ternyata ia telah dijodohkan dan dilamar oleh orang lain. Langit seolah runtuh menimpa hatiku. Tubuhku remuk redam dihantam gelombang kenyataan. Perih dan sakit! Itu yang kurasakan sekarang.
Dalam surat itu pun ada undangan pernikahannya. Ia akan menikah satu minggu lagi. Aku mencintainya ibarat kuncup bunga hati yang siap untuk mekar dengan keharumannya yang memikat. Namun, ternyata jangankan mekar yang kudapat. Kuncup itu layu sebelum berkembang.
Sungguh beruntung lelaki yang mendapatkan cintanya. Aku tak tahu kenapa aku bisa berpikiran seperti itu? Entahlah akupun tidak tahu. Namun yang terpenting dari sekian banyak manusia, dari sekian banyak insan dunia, bagiku dialah yang terindah, terbaik, dan paling mempesona! Pancarannya begitu tajam menghujam. Sungguh, tak akan ada yang bisa menggantikannya walaupun dicari di belahan bumi manapun, tetaplah dia orangnya!
***
“Faris, ada apa dengamu?” Tanya Angga padaku yang temenung bersandar di samping jendela kamar kost, melihat bulan purnama yang tertutup sebagian awan.
“Aku mencintai Sousan. Tapi, ia menolakku! Dan ia akan nikah minggu besok.” Jawabku lirih.
“Ris.” Angga menaruh telapak tangannya di pundakku. “Bersyukurlah ris, Allah kini menyadarkan kamu dari kekhilafan. Kau sampai lupa untuk mencurahkan cintamu pada yang seharusnya lebih kau cintai dari pada Sousan. Sadarlah ris, bahwa teramat sulit menggapai cinta Allah, yang telah bisa kupelajari dari mahluk Nya yang bernama manusia. Karena itu, kau harus bangkit untuk menjadi yang terbaik.”
“Sadar dan bangkit?”
“Iya.” Jawab Angga tanpa ragu. “Sesungguhnya yang ada padamu sudah teramat sempurna yang telah Allah berikan. Namun? Sinarannya belum terlihat, masih pudar dan perlu kau bersihkan, itulah hati. Jika sinarnya telah mendekati kesempurnaan, kilaunya akan memancar ke luar, itulah namanya kecantikan atau ketampanan hakiki. Bukankah kasih tak sampai benteng diri untuk senantiasa menjaga kesucian? Terutama hatimu yang senantiasa wajib kau jaga kesuciannya. Karena itulah… Kasih Tak Sampai merupakan sebuah cermin bahwa untuk mengerti arti cinta sejati yang sesungguhnya.
Seseorang mencintai orang lain tidaklah melihat dari kecantikan, ketampanan atau kekayaan. Tetapi ia melihat pancaran yang ada pada hatinya. Kenapa? Karena kecantikan atau ketampanan akan sirna bersama berlalunya waktu. Begitu pun kekayaan akan lenyap bersama perputaran roda kehidupan. Pangkat dan jabatan pun akan berakhir dengan habisnya masa. Sedangkan pancaran hati akan senantiasa abadi bersama ridha Ilahi.” Lanjut Angga yang membuatku terisak.
Angga mengangkat tangannya dari pundakku. Kemudian ia pergi berlalu meninggalkanku sendirian di kamar itu.
Aku membenamkan kepalaku. Larut dalam keheningan malam. Dalam sepi ku berdo’a:
“Ya Allah. Seandainya telah Engkau catatkan dia akan menjadi teman menapaki hidup. Satukanlah hatinya dengan hatiku. Titipkanlah kebahagiaan diantara kami. Agar kemesraan itu abadi. Dan ya Allah… ya Tuhanku yang Maha Mengasihi. Seiringkanlah kami melayari hidup ini ke tepian yang sejahtera dan abadi.
Tetapi ya Allah. Seandainya telah Engkau takdirkan…dia bukan milikku. Bawalah ia jauh dari pandanganku. Luputkanlah ia dari ingatanku. Ambilah kebahagiaan ketika dia ada disisiku dan peliharalah aku dari kekecewaan. Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti. Berikanlah aku kekuatan melontar bayangannya jauh ke dada langit, hilang bersama senja merah. Agar aku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya.
Dan ya Allah tercinta. Gantikanlah yang telah hilang. Tumbuhkanlah kembali yang telah patah. Walaupun tidak sama dengan dirinya. Ya Allah ya Tuhanku. Pasrahkanlah aku dengan takdir Mu. Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan adalah yang terbaik buatku. Karena Engkau Maha Mengetahui Segala yang terbaik buat hambaMu ini…”
Gintung, 010807. 06.43 Wib

catatan penulis: nih cerpen sebenarnya udah lama nulisnya. waktu terinfeksi virus merah jambu. tapi direvisis lagi pertengahan tahun 2007. untungnya aku ditolak. he.. he.. orang aneh, ditolak malah seneng.

Senin, 05 Oktober 2009

fitur-fitur google yang bisa membantu anda dalam pencarian informasi

kalo bicara sola google pasti langsung tertunjuk pada search engine yang paling top. tapi, tunggu dulu! bukan hanya itu yang bisa dilakukan google. gak percaya coba simak dan langusng praktekkin tips berikut ini:

1. Google dapat menjadi kalkulator.

ketik soal matematika ke dalam kotak pencarian maka goggle akan mengolahnya. anda dapat menuliskan persamaan atu sola dengan kata – kata (two plus two, twelve devided by three), menggunakan angka – angka dan simbol (2+2, 12/3), atau mengetikkan kombinasi keduanya.

2. Goggle dapat menjadi kamus

ketik define diikuti kata apapun dalam bahasa inggris ke dalam kotak pencarian, maka goggle akan memberi anda sebuah definisi yang cepat dibagian atas hasil pencarian. (define book), (define: crazy)

3. menjelajahi rak buku di dunia secara online

carilah sebuah topik di print.goggle.com maka anda akan melihat informasi dari buku – buku aktual yang telah dipindai dan diindeks oleh goggle dalam datebase-nya. anda dapt membuka – buka atau membaca seluruh teks asal karya bersangkutan tidak dilindungi hak cipta. sampai – sampai buku The History of Java karya Rafless juga ada.

4. Peta, petunjuk jalan, dan pemandangan dari satelit cukup satu kali klik

cara paling cepat untuk menemukan jalan paling cepat ke tujuan anda adalah memasukkan nama kota dan negara bagian atau cukup kode pos ke dalam kotak pencarian

contoh: washington dc, maka goggle akan menyediakan sebuah link langsung ke layanan peta dan petunjuk jalannya sendiri, maps.goggle.com