Wacil Rakyat
(Menyambut masa jabatan baru para wakil rakyat)
Ahmad-Yunus
Ruang sidang yang megah itu tampak lengang. Sedikit sekali manusia – manusia terhormat yang mewakili rakyat itu hadir pada sidang kali ini. Padahal, agenda sidang kali ini adalah soal rakyat.
Sedari awal sidang, sudah berkali – kali Situloyo menguap. Politikus yang satu ini terbilang veteran di gedung dewan. Ia sudah jadi wakil rakyat sejak orde paling lama sampai saat ini, orde paling baru. Menjadi orang yang selalu terapung di tengah gelombang.
Sebagai wakil rakyat yang paling banyak makan asam garam, baginya sidang – sidang soal rakyat memang menjemukan. Sungguh memuakkan dan menjengkelkan, membuat kesal saja. Lebih baik sidang yang banyak komisinya, lebih banyak ang pao yang masuk kantong jas safari.
Gemerlapnya cahaya lampu yang berkilauan, tak mampu membendung rasa kantuknya. Matanya mulai merem – merem ayam. Perut gendutnya menelusup di kursi empuk. Penglihatannya kabur, matanya memejam. Ia sudah terbang melayang ke dunia mimpi.
***
Situloyo membuka mata. Gelap. Sangat gelap. Ia kini tak tahu berada di mana.
Kreeekk. Terdengar suara begitu nyaring. Seperti suara pintu besi berkarat yang ditarik paksa. Memekakkan telinga dengan kebisingan yang sangat.
Seberkas cahaya hadir dari sela - sela pintu itu. Cahayanya menyilaukan pandangan Situloyo. Ia tak kuasa menahan rasa herannya saat ia buka mata lagi dan mengetahui di mana kini ia berada.
Jeruji besi yang kokoh dililiti kawat berduri terpampang di hadapannya. Mengurungnya dengan ketat tanpa ampun. Ia kini berada dalam sel bawah tanah yang pengap dan bau busuk.
Ada apa ini? Kenapa aku yang punya jabatan dan kekuasaan ada di tempat seperti ini? Tanyanya heran dalam hati.
Tiga orang yang tadi membuka pintu mendatanginya. Satu orang memakai pakaian putih – putih dengan wajah sangat bersih. Sementara dua orang lagi memakai baju penjaga dan berwajah sangar dengan kumis lebat membaplang.
“Kau Situloyo?” Tanya lelaki yang berwajah bersih.
“Iya. Benar aku Situloyo. Aku mau tanya, kenapa aku ada di sini? Kau tahu siapa aku? Aku adalah wakil rakyat. Aku pejabat. Tak pantas bagiku ada di sini. Cepat keluarkan aku!” Bentak Situloyo marah.
Lelaki berwajah dingin itu malah menyiringai menanggapi bentakan Situloyo. Dengan tenang ia menjawab. “Itu dulu. Tapi kini, kau adalah tahanan. Kau itu pesakitaan. Tak pantas orang sepertimu membentakku.”
“Berani benar kau padaku. Awas kalau aku bebas. Kau akan kupecat.” Bentak Situloyo tak dapat menahan emosinya.
“Kau itu bersalah. Para saksi untuk kasus – kasusmu telah antri untuk memberikan testimoninya. Jadi tak mungkin kau akan bebas dari persidangan ini. Pengadilan di sini bukan pengadilan yang ada di negerimu, yang keputusan pengadilan agak rahasia dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual beli.” Jawab seorang penjaga yang menggenggam gada besi.
“Apa?” Hati Situloyo jadi ciut mendengar jawaban penjaga itu. Ia seperti tak punya keberanian untuk menyombongkan diri lagi. “Tapi, apa salahku sampai aku ada di sini?” Tanya Situloyo setengah mengiba.
“Kau pingin tahu?” Sahut lelaki berwajah bersih. “Sebentar lagi kau akan tahu sendiri apa kesalahanmu.” Lanjutnya sambil berlalu meninggalkan Situloyo. “Pengawal, bawa dia!” Serunya.
Dengan gagah, kedua pengawal itu menggelandang Situloyo. Harga diri Situloyo benar – benar hancur. Ia digelandang dengan kedua kaki dipasang gelang kaki India dan dirantai yang ujungnya bola besi. Diarak keliling kota seperti binatang sirkus. Rasanya sangat malu. Ia yang seorang pejabat tinggi dan orang penting diperlakukan seperti itu.
Sampailah di alun – alun kota . Semua masyarakat telah tumpah ruah di sana . Sebentar lagi pengadilan sakral akan dimulai, dengan Situloyo sebagai pesakitannya.
Situloyo dimasukkan ke dalam kerangkeng besi yang sekililingnya dililiti kawat berduri. Ia seperti anjing budukkan yang diperlakukan sangat hina dina.
Si lelaki berwajah bersih maju ke muka hakim. “Yang mulia hakim, Si tergugat Situloyo sudah ada di sini. Sidang siap dimulai.” Lapornya.
“Imterupsi, pak hakim.” Teriak Situloyo menyela. “Kalau ini persidangan, ini tak adil! Ini tidak fair! Saya harus didampingi pengacara.” Lanjutnya berontak.
“Hey Sitiloyo, itu tak berlaku bagimu dan dalam persidangan ini. Kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu sendiri.” Kata sang hakim menolak permintaan Situloyo.
“Kau tahu, Situloyo? Kau ada di sini dengan tuduhan pengingkaran amanat rakyat, korupsi, penyalahgunaan jabatan, menerima suap dan membohongi rakyat.” Lelaki berwajah bersih menyela.
“Apa? Itu tidak benar!” Teriak Situloyo tak terima. Ia pernah menerima penghargaan sebagai wakil rakyat yang merakyat.
“Situloyo, orang – orang yang ada di sini adalah para saksi untuk kasusmu.” Kata lelaki berwajah bersih yang bertindak sebagai jaksa penuntut.
“Siapa mereka? Aku tak kenal dengan rakyat – rakyat itu.” Tanya Situloyo heran.
“Mereka adalah orang – orang yang selalu kau atas namakan. Merekalah orang – orang yang terus kau tipu dan kelabui dengan segala keserakahanmu.”
“Tidak! Itu tidak benar! Aku selalu berjuang untuk rakyat. Aku kerja keras untuk mereka sampai pernah kerja sehari semalam demi rakyat.” Kata Situloyo sedih. Terpukul sekali tampaknya ia.
“Bohong, Pak hakim. Itu hanya dusta.” Teriak seorang bocah menyela.
“Hey, siapa kau? Berani bicara seperti itu.” Bentak Situloyo marah.
“Dia adalah saksi untuk kasusmu.” Sahut sang jaksa menyela.
“Benar Pak hakim. Saya kan memberikan kesaksian saya. Dulu dengan keadaan lemas dan perut yang sangat lapar karena sudah satu minggu belum makan, saya mengemis dan meminta pada bapak itu yang baru keluar dari hotel berbintang tujuh sekedar sedekahnya. Saya malah dicaci maki dan diludahinya. Katanya, “Dasar anak tengik tak tahu diuntung, saya sudah bekerja keras seharian untuk kamu!” kemudian tanpa rasa berdosa ia menendang saya dan berlalu pergi dengan mobil Ferrarinya.” Bocah itu memberikan kesaksiannya.
“Benar itu, Situloyo?” Tanya hyakim memnggelegar.
Aneh. Mulut Situloyo terkunci. Ia tak bisa membantah ucapan bocah itu. Tiba – tiba lidahnya menjulur keluar dan berkata, “Benar, saya dipake unuk membentak dan meludahi anak itu.”
Lalu kaki kanan Situloyo menendang dan bersuara. “benar, saya dipake untuk menendang bocah itu.”
Muka Situloyo memerah. Ia tak bisa mengerti dengan semua ini. Ia tak bisa angkat bicara. Ia ingin mengelak dan berkata tidak, walaupun itu harus berdusta.
“Situloyo, kau juga digugat karena telah melakukan korupsi dan menyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri.”
“Tidak! Itu tidak benar!” Teriak Situloyo sekuat tenaga. Kali ini ia bisa bicara lagi. “Aku malah sering melakukan sedekah saat negeriku tertimpa bencana.” Bantahnya.
“Alah, itu hanya kebohongan publik. Mana ada orang yang berjuang untuk rakyat menghadiahi dirinya sendiri dengan rumah seharga dua milyar, lima mobil Ferrari, satu pesawat jet, berhektar tanah di tujuh kota .” Bantah Sang jaksa.
“Itu semua adalah pemberian Negara sebagai insentif jabatan.” Kilah Situloyo.
“Hmm. Seperti itu. Saya ingin bertanya padamu Situloyo. Apakah kau telah melakukan korupsi dan penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan diri sendiri?” Tanya Sang hakim dengan mimik sangat serius.
Situloyo ingin bersuara, tapi mulutnya kembali terkunci. Tiba – tiba saja tangan kanannya angkat jari. “Kami yang telah menandatangai proyek – proyek itu, dan itu memang benar!” Kata telunjuk dan ibu jari Situloyo memberikan kesaksian.
“Dan tangan ini juga telah menerima berjuta – juta komisi, uang suap, uang proyek dan segala macam upeti.” Kata telapak tangan Situloyo bersuara.
Kesaksian demi kesaksian terus diberikan pada muka pengadilan sakral itu. Semuanya memberatkan Situloyo. Dan Situloyo tak dapat mengelak dari semua yang pernah dilakukannya.
“Situloyo, apalagi yang akan kau katakana. Semua bukti telah jelas menunjukkan kau bersalah!?” Ujar sang Jaksa.
Wajah Situloyo memerah. Airmatanya yang sebesar kelereng bercampur darah menetes dari kelopak matanya. Ia tampak menyesal. Ia telah menyadari kesalahannya. “Saya mengaku bersalah. Monoloyalitasku sebenarnya pada uang. Sila dasarku pada Keuangan yang maha esa. Ideologiku begitu jelas, ideologi rupiah. Dan asas tunggalku memang keserakahan.” Kata Situloyo terisak menumpahkan semua rasa sesalnya. “Saya menyesal. Ampunilah saya!” Pinta Situloyo mengiba – iba.
“Hey Situloyo, simpan sedu sedan itu. Itu tak berguna. Berdasarkan dengan segala barang bukti dan kesaksian yang meyakinkan, kau bersalah!” Kata sang jaksa. “Kau patut dihukum.” Lanjutnya. “Yang mulia hakim, mohon untuk memutuskan.” Pintanya pada hakim.
“Baiklah. Setelah mendengarkan semua kesaksian yang ada. Situloyo telah terbukti bersalah. Maka, ia dijatuhkan hukuman dilempar ke sungai api.” Kata sang hakim dengan suara menggelegar menjatuhkan hukuman pada Situloyo.
Situloyo yang mendengar itu langsung lemas. Ia tak kuasa menahan ketakutan. Saking takutnya, pandangannya menjadi kabur. Semua jadi gelap dimatanya.
***
Persidangan wakil rakyat dengan agenda soal rakyat itu masih berjalan. Suaranya yang riuh rendah tak membuat para wakil rakyat yang telah terlelap menjadi terjaga. Mereka masih asyik dengan bunga tidurnya masing – masing.
Sementara, di luar sidang, di perempatan jalan dekat gedung dewan, seorang bocah menyandang gitar usangnya menahan dingin gerimis. Denga suara sedikit sumbang sambil ditemani petikan gitar, ia bernyanyi;
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat.