Minggu, 01 November 2009

lomba film, komik, esai dan resensi film di UI BOOK FAIR 2009

Formasi FIB UI mempersembahkan Rangkaian acarqa UI BOOK FAIR 2009.adapun untuk lomba adalah sebagai berikut:

Film Pendek
Terbuka untuk umum, baik perorangan ataupun kelompok (maks. 3 orang)Bukan merupakan film dokumenter dan bukan merupakan kumpulan slide foto maupun video klip musik.Film yang diikutsertakan berdurasi 7-15menitFilm yang dikirimkan bukan merupakan hasil rekaman dari hand phone.Film yang diikutsertakan belum pernah memenangkan kompetisi atau
festival film lain dan bukan merupakan karya yang meniru film lain
(dalam hal isi cerita) dan boleh merupakan produksi sebelum tahun 2009.Tidak mengandung unsur SARA dan fornografiPeserta mengirimkan identitas singkat dan nomor yang dapat dihubungiBiaya Pendaftaran Rp 20.000
Komik Islami
Ketentuan Umum :

1.Peserta terbuka untuk umum
2. Peserta lomba adalah perorangan
3. Karya yang diikutsertakan dalam lomba ini harus karya asli, bukan
saduran atau jiplakan atau mengambil karakter dan cerita dari komik
yang sudah ada.
4. Karya belum pernah dilombakan/ diterbitkan/ dipamerkan.
5. Peserta mengirimkan identitas singkat dan nomor yang dapat dihubngi

Ketentuan Teknis :

1. Komik dibuat di atas kertas ukuran A4 (vertikal), tidak diperkenankan menggambar di kedua sisi kertas (bolak-balik) .

2. Jumlah keseluruhan 10 halaman termasuk cover. Jumlah dan ukuran gambar dalam setiap halaman bebas.

3. Teknik gambar dan pewarnaan bebas.

4. Komik dilengkapi dengan teks singkat dan menggunakan bahasa Indonesia..

5. Komik tidak menyangkut unsur SARA dan pornografi.

6. Komik dikirimkan dalam bentuk hard copy

Resensi Novel

Ketentuan:
Merupakan karya orisinil/ buka jiplakanPanjang resensi minimal 1 halaman A4.Font TNR, size 12 spasi 1.5, semua margin 3 cm.Novel yang diresensi bebas (pilih salah satu) Karya Darwis Tere-Liye.Lomba dapat dikirim via email : ui.book.fair@ gmail.com Peserta mengirimkan identitas singkat dan nomor yang dapat dihubungi

Esai
Karya belum pernah dipublikasikan sebelumnya.Format kertas A4, Font TNR, size 12, spasi 1.5, semua margin 3 cmPeserta lomba adalah perorangan.Bukan karya jiplakan, saduran, dan terjemahan.Panjang naskah 3-6 halaman.lomba dapat dikirim via email : ui.book.fair@ gmail.comPeserta mengirimkan identitas singkat dan nomor yang dapat dihubungi


Batas Maksimal Pengiriman Lomba Tanggal 21 November 2009
Pengumuan lomba : tanggal 24 November 2009 (acara puncak UI Islamic Book Fair)


NB: untuk Lomba Film dan Komik kami tidak menerima kiriman via email
tetapi langsung ke stand lomba UI Islamic Book Fair di Musholla
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (Senin-Jumat,
pukul 09..00-18.00 WIB)
CP : 085693080124 / 085287972964


*Jika ada perubahan dari pengumuman ini akan segera di update oleh admin.
Dan apabila ada pertanyaan terkait lomba dapa di kirimkan via email : ui.book.fair@ gmail.com atau FB Formasi FIB UI

Minggu, 25 Oktober 2009

Cinta Itu Memang Aneh...

Aku tak tahu harus berbuat apa dengan rasa ini. Tiba – tiba saja datang tanpa diundang, membuat perasaanku tak menentu. Apakah ini yang dinamakan cinta? Entahlah, aku tak tahu jawabnya pasti!
Hanya saja, entah kenapa? Tiap kali aku melihat sosok wanita yang penampilannya menurutku sempurna itu, jantungku langsung berdebar. Ada ingin untuk selalu bisa dekat dengannya. Ada ingin untuk bercakap dengannya. Ada rasa kekaguman yang menawan hati untuk menyanjungnya. Apakah ini yang dinamakan cinta?
“Cinta merupakan karunia Ilahi, hadirnya tanpa diundang, tiba-tiba kita sadari ia kuat tertanam laksana akar pohon yang rindang. Menggetarkan jiwa, menggelorakan semangat dan rasa. Dunia pun menjadi aneh dibuatnya.” Begitulah ungkapkan tentang cinta yang kudapat dari sebuah buku.
Sousan Mumtaz. Namanya indah seperti orangnya. Dialah wanita yang telah menawan hatiku. Wajahnya yang putih bersih, cantik nan jelita dengan lesung pipi indah yang menawan hati. Matanya bulat bening berwana coklat, teduh namun tajam menatap dunia. Bibirnya merah muda, halus menawan. Senyumnya tulus menganggumkan, menambah kecantikan paras wajahnya. Suaranya lembut mendayu, tenang namun menghanyutkan. Ia semakin terlihat anggun dengan mahkota jilbabnya. Ditambah lagi dengan pandangannya yang luas. Otak yang cerdas. Akhlaknya pun sungguh sangat menawan. Semuanya ada padanya. Kecantikan yang menawan dibalut busana surgawi dengan bingkai akhlak imani dan pikiran yang cerdas. Sesuai dengan namanya, Sousan Mumtaz, teratai yang istimewa.
Pertama kali aku kenal dengannya adalah saat sebuah acara di kampus. Saat tingkat pertama dulu. Dari perkenalan itulah kemudian aku kenal dengan baik siapa dia, walaupun saat itu sampai sekarang hubungan aku dengannya hanya sebatas teman. Dan aku pun jarang sekali berinteraksi secara langsung dengannya. Namun, wajahnya yang cantik menawan, tutur katanya yang sopan dengan suara lembut mendayu saat aku berbincang dengannya, dan pikirannya yang matang dalam memandang suatu masalah lewat tulisan – tulisannya yang kubaca di berbagai media. Membuat bibit rasa ini tumbuh, perasaan cinta yang sekarang menderaku tumbuh semakin lebat.
Kurasakan getar hatiku manakala bercerita penuh harap kepadanya. Ia laksana kilau permata yang penuh cahaya dimataku. Mencintainya ibarat kuncup bunga hati yang siap untuk mekar dengan keharumannya yang memikat.
Aku jadi ragu untuk mengungkapkan perasaanku ini padanya. Apakah ia mau menerima cintaku. Aku hanya seorang lelaki biasa, sedangkan ia seperti mahadewi yang menjadi rebutan para arjuna. Dia cantik, cerdas, berakhlak menawan, dan anak orang kaya yang memiliki jabatan. Diriku hanyalah anak kuliahan biasa, aku juga tak terlalu cerdas dan aku anak seorang petani miskin dari desa yang bekerja keras untuk membiayai kuliah anaknya. Cintaku seperti punguk merindukan bulan.
Tapi, bagaimana dengan rasa ini? Aku sudah tak sanggup lagi menahannya. Tiga tahun aku kenal dengan dia. Sudah dua tahun ini rasa cinta itu tumbuh dan terus tumbuh semakin lebat. Buku yang kubaca, tapi wajahnya yang hadir berkilatan. Suara angin mendesir pun berubah menjadi suaranya yang lembut dan tenang. Kalau tak segera kuungkapkan rasa ini, bisa gila aku dibuatnya!
aku ingin mengutarakan cintakan. mengatakan seperti pusisinya Sapardi. ah Sousah,

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Aku mengumpulkan keberanianku. Rasa cinta ini menggelorakan semangat dan perasaanku. Kutuliskan surat cintaku di secarik kertas. Siang ini akan aku berikan padanya. Selepas rapat sebuah organisasi.
Sousan, Sebagaimana Allah menghadirkanku ke dunia ini dengan rasa cinta, melalui perantara seorang ummi yang penuh kasih, karena itulah, rasa yang begitu kuat terpatri di Qalbuku adalah rasa cinta (ingin dicintai dan mencintai).
Aku tumbuh laksana tunas pohon kecil yang mengeluarkan dedaunannya dan ketika kuncupnya menyembul. Bersama itu pula timbul hasrat dihatiku untuk mencari pasangan hidup, teman berbagi suka dan duka di alam ini.” Aku membaca kembali kata – kata dalam secarik kertas, kalimat yang kucontek dari sebuah buku yang akan aku berikan pada Sousan bersama setangkai bungan mawar.
“Sousan.” Panggilku saat ia keluar dari sebuah ruangan.
“Assalammu’alaikum. Faris, ada apa?” Sapanya lembut.
“Wa’alaikum salam. Aku…ee..” Mulutku terasa gagap, aku tak sanggup bicara padanya, melihat wajahnya pun aku tak sanggup.
“Faris, kamu ingin bicara apa padaku?” Tanya Sousan penasaran.
“Aku…ini untukmu!” Aku memberikan amplop berwarna biru langit dan setangkai bungan mawar padanya.
Kulihat Sousan mengernyitkan dahi. Sejenak ia terpaku menatap amplop dan bunga mawar yang kuberika padanya. Persendianku terasa lemas, seperti menunggu sebuah vonis darinya. “Ini untuk apa?” Tanya Sousan sambil mengangkat amplop dan bunga mawar itu dengan kedua tangannya.
“Itu tentang perasaanku!” Jawabku singkat sambil berlalu meninggalkannya.
***
Hatiku berdebar semakin kencang. Tanganku bergetar memegang sepucuk surat dari Sousan. Perlahan kubuka surat itu dan kubaca isinya:
Assalammu’alaikum.
Sungguh aku sangat berterimakasih kepadamu yang telah mencintaiku. Jujur, aku sangat senang ada orang yang telah mencintaiku sepenuh hatinya. Hanya saja perlu kau ketahui bahwa aku tidak memerlukan seorang pacar, yang aku butuhkan adalah seorang lelaki untuk menjadi suamiku. Dan aku TELAH DIJODOHKAN dengan seorang LELAKI PILIHAN kedua orang tuaku. Yang tak bisa aku menolaknya karena keputusan kedua orangtuaku, kuyakini sebagai keputusan yang terbaik bagi diriku. Orangtuakulah yang lebih tahu tentang aku sebagai anaknya. Lelaki itu pun telah meminangku. Kau tahukan! Seorang lelaki tidak boleh meminang diatas pinangan saudaranya.
Namun satu hal yang harus kau ingat! TAK SELAMANYA CINTA ITU HARUS MEMILIKI. Ibarat Qalbu yang bebas bergerak tanpa bisa ku cegah. Karena ia hidup sebagaimana arus air yang mengalir. aku saja tak dapat memiliki hatiku, apalagi orang lain? Yang berhak memilikinya adalah Allah.
Sesungguhnya cinta dijadikan Allah di dalam Qalbu. Keindahannya akan kau temukan manakala kau dapatkan hatimu mencintai Allah. Tak ada satu pun yang sempurna di muka bumi ini kecuali diri Nya. Cobalah kau pahami firmanNya:
Laa tahzaan wa laa takhaaf, Janganlah sedih dan janganlah takut, Innallaahaa ma’ana, Sesungguhnya Allah bersama kamu.
Betapa dengan sayang Nya Ia berkata: ‘Thayyibaa tu litthayyibiina watthayyibuuna litthayyibaati’ Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS.An Nur 24:26).
Terimakasih atas perasaan cintamu padaku. Tapi maaf, aku telah dijodohkan dan dipinang oleh lelaki lain. Masih ada wanita lain yang dapat kau pilih untuk menjadi pendamping hidupmu. Yang aku yakini sesuai Firman Nya adalah Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik.
Mataku basah membaca surat itu. Cintaku kandas. Ternyata ia telah dijodohkan dan dilamar oleh orang lain. Langit seolah runtuh menimpa hatiku. Tubuhku remuk redam dihantam gelombang kenyataan. Perih dan sakit! Itu yang kurasakan sekarang.
Dalam surat itu pun ada undangan pernikahannya. Ia akan menikah satu minggu lagi. Aku mencintainya ibarat kuncup bunga hati yang siap untuk mekar dengan keharumannya yang memikat. Namun, ternyata jangankan mekar yang kudapat. Kuncup itu layu sebelum berkembang.
Sungguh beruntung lelaki yang mendapatkan cintanya. Aku tak tahu kenapa aku bisa berpikiran seperti itu? Entahlah akupun tidak tahu. Namun yang terpenting dari sekian banyak manusia, dari sekian banyak insan dunia, bagiku dialah yang terindah, terbaik, dan paling mempesona! Pancarannya begitu tajam menghujam. Sungguh, tak akan ada yang bisa menggantikannya walaupun dicari di belahan bumi manapun, tetaplah dia orangnya!
***
“Faris, ada apa dengamu?” Tanya Angga padaku yang temenung bersandar di samping jendela kamar kost, melihat bulan purnama yang tertutup sebagian awan.
“Aku mencintai Sousan. Tapi, ia menolakku! Dan ia akan nikah minggu besok.” Jawabku lirih.
“Ris.” Angga menaruh telapak tangannya di pundakku. “Bersyukurlah ris, Allah kini menyadarkan kamu dari kekhilafan. Kau sampai lupa untuk mencurahkan cintamu pada yang seharusnya lebih kau cintai dari pada Sousan. Sadarlah ris, bahwa teramat sulit menggapai cinta Allah, yang telah bisa kupelajari dari mahluk Nya yang bernama manusia. Karena itu, kau harus bangkit untuk menjadi yang terbaik.”
“Sadar dan bangkit?”
“Iya.” Jawab Angga tanpa ragu. “Sesungguhnya yang ada padamu sudah teramat sempurna yang telah Allah berikan. Namun? Sinarannya belum terlihat, masih pudar dan perlu kau bersihkan, itulah hati. Jika sinarnya telah mendekati kesempurnaan, kilaunya akan memancar ke luar, itulah namanya kecantikan atau ketampanan hakiki. Bukankah kasih tak sampai benteng diri untuk senantiasa menjaga kesucian? Terutama hatimu yang senantiasa wajib kau jaga kesuciannya. Karena itulah… Kasih Tak Sampai merupakan sebuah cermin bahwa untuk mengerti arti cinta sejati yang sesungguhnya.
Seseorang mencintai orang lain tidaklah melihat dari kecantikan, ketampanan atau kekayaan. Tetapi ia melihat pancaran yang ada pada hatinya. Kenapa? Karena kecantikan atau ketampanan akan sirna bersama berlalunya waktu. Begitu pun kekayaan akan lenyap bersama perputaran roda kehidupan. Pangkat dan jabatan pun akan berakhir dengan habisnya masa. Sedangkan pancaran hati akan senantiasa abadi bersama ridha Ilahi.” Lanjut Angga yang membuatku terisak.
Angga mengangkat tangannya dari pundakku. Kemudian ia pergi berlalu meninggalkanku sendirian di kamar itu.
Aku membenamkan kepalaku. Larut dalam keheningan malam. Dalam sepi ku berdo’a:
“Ya Allah. Seandainya telah Engkau catatkan dia akan menjadi teman menapaki hidup. Satukanlah hatinya dengan hatiku. Titipkanlah kebahagiaan diantara kami. Agar kemesraan itu abadi. Dan ya Allah… ya Tuhanku yang Maha Mengasihi. Seiringkanlah kami melayari hidup ini ke tepian yang sejahtera dan abadi.
Tetapi ya Allah. Seandainya telah Engkau takdirkan…dia bukan milikku. Bawalah ia jauh dari pandanganku. Luputkanlah ia dari ingatanku. Ambilah kebahagiaan ketika dia ada disisiku dan peliharalah aku dari kekecewaan. Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti. Berikanlah aku kekuatan melontar bayangannya jauh ke dada langit, hilang bersama senja merah. Agar aku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya.
Dan ya Allah tercinta. Gantikanlah yang telah hilang. Tumbuhkanlah kembali yang telah patah. Walaupun tidak sama dengan dirinya. Ya Allah ya Tuhanku. Pasrahkanlah aku dengan takdir Mu. Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan adalah yang terbaik buatku. Karena Engkau Maha Mengetahui Segala yang terbaik buat hambaMu ini…”
Gintung, 010807. 06.43 Wib

catatan penulis: nih cerpen sebenarnya udah lama nulisnya. waktu terinfeksi virus merah jambu. tapi direvisis lagi pertengahan tahun 2007. untungnya aku ditolak. he.. he.. orang aneh, ditolak malah seneng.

Senin, 05 Oktober 2009

fitur-fitur google yang bisa membantu anda dalam pencarian informasi

kalo bicara sola google pasti langsung tertunjuk pada search engine yang paling top. tapi, tunggu dulu! bukan hanya itu yang bisa dilakukan google. gak percaya coba simak dan langusng praktekkin tips berikut ini:

1. Google dapat menjadi kalkulator.

ketik soal matematika ke dalam kotak pencarian maka goggle akan mengolahnya. anda dapat menuliskan persamaan atu sola dengan kata – kata (two plus two, twelve devided by three), menggunakan angka – angka dan simbol (2+2, 12/3), atau mengetikkan kombinasi keduanya.

2. Goggle dapat menjadi kamus

ketik define diikuti kata apapun dalam bahasa inggris ke dalam kotak pencarian, maka goggle akan memberi anda sebuah definisi yang cepat dibagian atas hasil pencarian. (define book), (define: crazy)

3. menjelajahi rak buku di dunia secara online

carilah sebuah topik di print.goggle.com maka anda akan melihat informasi dari buku – buku aktual yang telah dipindai dan diindeks oleh goggle dalam datebase-nya. anda dapt membuka – buka atau membaca seluruh teks asal karya bersangkutan tidak dilindungi hak cipta. sampai – sampai buku The History of Java karya Rafless juga ada.

4. Peta, petunjuk jalan, dan pemandangan dari satelit cukup satu kali klik

cara paling cepat untuk menemukan jalan paling cepat ke tujuan anda adalah memasukkan nama kota dan negara bagian atau cukup kode pos ke dalam kotak pencarian

contoh: washington dc, maka goggle akan menyediakan sebuah link langsung ke layanan peta dan petunjuk jalannya sendiri, maps.goggle.com

Kamis, 01 Oktober 2009

Mimpi sang Kleptoper

(Melihat kembali wajah buram negeri kita seta dukungan untuk KPK yang kini disuntik lumpuh oleh para kleptomania)
Ahmad-Yunus

Kedua tangan hitam yang berbulu lebat itu mencekik kuat Rusdi. Kuku – kuku tajam dari makhluk itu membuat Rusdi semakin sesak. Mata peset berwarna kuning makhluk itu buas menatap Rusdi, sementara dari mulutnya menetes mitraliur. Pemandangan yang menjijikan di mata Rusdi.
Dengan santainya makhluk itu mencekik Rusdi yang sudah sesak nafas. Separuh nafas Rusdi terasa telah terbang. Jiwa Rusdi terasa dicabut paksa tinggalkan raga. Sebentar lagi Rusdi akan tamat.
Rusdi coba berontak. Dengan sekuat tenaga yang tersisa Rusdi berteriak minta tolong.
“Mas… Mas…” Satu suara terdengar di telinga Rusdi.
Rusdi membuka mata. Gelap. Ia edarkan pandangannya ke sekeliling. Tak ada tangan hitam berbulu yang mencekiknya tadi. Makhluk aneh itu pun sirna dari hadapannya.
“Mas… Mas kenapa?” Tanya Mirnah, isteri Rusdi heran menyaksikan suaminya yang linglung.
“Engh…” Desah Rusdi , ia masih linglung, kekagetan begitu tergambar dari romannya, nafasnya pun memburu, peluh membasahi seluruh tubuhnya.
“Kenapa? Mas, mimpi buruk lagi?” Tanya Mirna lagi.
“Iya. Mimpi buruk lagi.” Jawab Rusdi dengan suara bergetar. Ia masih shock dengan mimpi tadi. “Makhluk itu datang lagi. Ia seperti mau mencabut nyawaku.” Lanjut Rusdi dengan suara memburu. Ketakutan begitu kentara dari mimik wajahnya.
“Enggak usah dipikirin. Toh itu Cuma mimpi. Cuma bunga tidur.” Tukas Mirnah sambil menutupi tubuhnya kembali dengan selimut.
Rusdi masih duduk termenung. Lamunannya masih melekat pada mimpi tadi. Ia jadi tak bisa lagi memejamkan mata. Ada ketakutan yang menyelinap dalam benaknya, kalau ia tidur bakal jumpa lagi dengan makhluk anah itu.
***
Pagi ini muka rusdi tampak pucat. Kelelahan dan mata merah sayu kurang tidur tampak dari wajahnya. Mimpi semalam memang membuatnya ketakutan. Sudah berkali – kali ia mimpi buruk seperti itu, mimpi didatangi makhluk aneh yang ingin mengeksekusinya.
Kerja hari ini kurang semangat. Sudah berkali - kali Rusdi menguap. Dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk tidak tidur. Ia takut kalau ketiduran makhluk aneh itu akan datang lagi menerornya.
Namun, sepertinya ia menghadapi tembok kokoh tak tertembus. Usahanya sia – sia belaka. Rasa kantuknya tak tertahankan lagi. Matanya terpejam membuka pintu dunia mimpi.
Rusdi membuka mata. Ia nyaris tak percaya, di mana kini ia? Saat ini ia sudah berdiri di atap sebuah gedung pencakar langit.
“Hey Rusdi, mau lari ke mana kau?” Sapa makhluk aneh itu yang telah terbang di udara menyambut kedatangan Rusdi.
Mata Rusdi terbelalak menyaksikan makhluk aneh itu sudah ada di atas kepalanya, makhluk yang bagian perutnya bersinar seperti kunang – kunang. Sekejap, ketakutan langsung menjalar ke seluruh tubuh Rusdi.
“Kau… “ Kata Rusdi tercekat. “Kenapa kau selalu menerorku? Apa salahku padamu?” Tanya Rusdi dengan suara bergetar.
“Kau Tanya kenapa aku selalu menerormu? Kau Tanya apa salahmu padaku? Makhluk macam apa kau ini? Kau telah memfitnahku dengan sangat kejam, dan kau merasa tak bersalah?” Ujar makhluk itu sambil menusukkan tangannya ke tubuh Rusdi.
“Jangaaaaaaaaaaaan…” Teriak Rusdi histeris.
Tok… Tok… Suara ketukan pintu terdengar di telinga Rusdi. Rusdi terjaga dari tidurnya. Segera ia membuka mata, ia kembali ke dunia.
Seorang lelaki masuk keruangan kerja Rusdi. “Bapak, kenapa tadi teriak sangat keras?” Tanya lelaki itu.
“Tidak apa – apa, hanya mimpi!” Tukas Rusdi. “ Ada apa kau kemari?”
Lelaki tadi tersenyum. “Begini, Pak. Saya kan kemarin habis kunjungan dinas ke Makassar . Ini bagian bapak. Biasa.” Kata lelaki tadi sambil menyodorkan amplop.
“Bagus. Begitulah seharusnya. Kau sudah mengerti.” Ujar Rusdi senang denga apa yang dilakukan bawahannya itu.
Di tempat kerja Rusdi itu memang sudah jadi tradisi merekayasa perjalanan dinas. Mereka biasanya merekayasa dengan tiket pesawat, bukti pembayaran palsu yang dilampirkan sebagai bukti ke dalam laporan perjalanan dinas. Dan sisa dari uang jalan dari kecurangan itu masuk ke kantong pribadi.
***
Dunia tiba – tiba menghitam. Gelap pekat memeluk bumi, lalu seberkas cahaya dari bola putih redup menjadi pelita di keremangan itu.
Rusdi tersentak kaget. Ia terdampar sendiri di sebuah taman luas tanpa tepi. Sunyi mencekam suasananya.
Ia mendengar suara aneh. Suara seperti nyamuk yang menggiung di telinga. Hanya saja jumlahnya lebih banyak.
Jantung Rusdi hampir berhenti berdetak menyaksikan kawanan kunang – kunang dari segala penjuru terbang ke arahnya. Darah Rusdi terkesiap, tatapannya nanar, ketakutan telah menjalar di seluruh tubuhnya. Kunang – kunang itu dipimpin oleh makhluk yang telah menerornya selama ini.
“Tungguuu… Tungguuuu… Jangan serang aku dulu. Aku mau bertanya pada kalian.” Pinta Rusdi dengan suara basah mengiba. Sambil jongkok ia mendekap erat lututnya yang gemetaran.
Makhluk – makhluk itu pun urung menyerang Rusdi. “Kau mau bertanya apa?” Kata pemimpin kunang – kunang itu seraya mendongakkan wajah Rusdi dengan tangannya.
“Kata apa dariku yang telah memfitnah kalian? Dan kapan aku melakukannya?” Tanya Rusdi dengan suara bergetar. Kadar ketakutannya pada makhluk itu sama sekali tak berkurang walaupun sering bersua.
“Kau tak tahu kata yang pernah kau ucapkan yang memfitnah kami dan kapan kau ucapkan itu?” Tanya makhluk aneh itu dengan suara menggelegar.
“Iya. Aku sungguh tak tahu!” Jwab Rusdi tak mengerti.
“Kau tahu Limin? Mantan bawahanmu dulu?”
Rusdi mengangguk. “Iya. Aku tahu.” Sahutnya.
Limin adalan bawahan Rusdi yang paling rese, menurutnya. Sosok yang sederhana, lugu dan jujur, namun berani. Limin mati dibunuh karena hendak membongkar dan melaporkan praktek manipulasi perjalanan dinas dan korupsi yang sering dilakukan oleh pegawai di departemen tempatnya bekerja.
“Kau ingat apa yang dulu kau katakan saat ia menolak melakukan rekayasa laporan perjalanan dinas? Saat itu dengan tenang dan tanpa merasa berdosa kau bilang, ‘Hanya kunang – kunang yang tak bisa lakukan rekayasa. Karena saat ia terbang, ia bersinar. Jadi ia tak bisa bohong. Kita ini bukan kuang – kunang. Kau mau seperti kunang – kunang? terbang dengan bodoh tanpa mau untung!’ Kau masih ingat percakapan itu.?” Tanya makhluk besar itu menohok Rusdi.
Memori Rusdi berputar mengulang perbincangan itu, sepuluh tahun silam. Rusdi menganggukkan kepala, pertanda mengiyakan. “Tapi, saat itu aku terpaksa. Modus manipulasi itu telah menjadi tradisi di tempatku bekerja. Pertama kali aku melakukan itu, itu pun karena paksaan dari atasan.” Kilah Rusdi.
“Terpaksa katamu? Kau menjadikan uang haram sebagai penghasilan untuk menafkahi keluargamu. Tak tahukah kau jikalau uang itu tak jadi danging? Kini makanan yang telah kau dan keluargamu makan dari uang haram itu telah menjadi penyakit. Wajah isterimu yang penuh jerawat, anakmu yang bisulan, dan kulit perutmu yang terbudur gendut membuat malu ikat pinggang, adalah penyakit dari makanan yang berasal dari uang haram.” Ujar makhluk itu membuat Rusdi bergidik. “Dan kau dengan posisimu saat ini, masih bilang terpaksa. Bukankah kau seharusnya dapat mencegah kecurangan yang membuat uang rakyat raib? Apa yang kau lakukan? Kau malah ikut menikmati kucuran uang haram itu dan melegalkan kecurangan yang semakin menjadi!” Lanjut makhluk itu menohok KO Rusdi yang kini menduduki jabatan inspektorat.
Rusdi tak lagi bisa bersuara, lidahnya terasa kelu. Ia tak dapat mengelak dari kenyataan kebobrokan moralnya yang dipaparkan makhluk itu.
“Kau harus dihukum!” Vonis makhluk itu.
Tanpa ada aba – aba lagi, pasukan kunang – kunang itu langsung menyerbu Rusdi.
“Tidaaak… Tidaaaak… “ Teriak Rusdi mengiba. Jeritannya menyayat.
“Pak… Pak… Bangun, Pak.”
Suara asing terdengar mampir di telinga Rusdi. Rusdi membuka mata. Terang. “Aku selamat!!” Teriaknya senang tanpa memperdulikan keadaan sekeliling.
“Bapak kenapa?” Tanya orang yang ada di samping Rusdi heran. Semua mata yang hadir pada seminar itu pun menatap Rusdi heran. Rusdi segera sadar, ia pias. Rasanya malu.
***
“Besok kita akan kunjungan dinas ke Manado . Biasa, kita mampir ke hotel, menggasak betis Manado yang mulus.” Kata Sopiyan, kolega Rusdi di departemen gemuk uang itu.
“Asyik. Kunjungan dinas. Uang masuk kantong. Betis mulus.” Sahut Rusdi girang. Sambil bersenandung, ia keluar ruangannya.
Sopiyan jadi heran dengan sikap Rusdi yang tak seperti biasanya.
“Asyik – asyik… Kunjungan dinas. Uang masuk kantong. Betis Manado mulus… Asyik – Asyik…” Senandung Rusdi girang sambil menari – nari kayak orang gila. Tanpa malu, ia terus menyanyi dan menari. Kelakuannya seperti orang tak waras. Semua mata tertuju padanya yang mendadak jadi aneh.
***
Departemen tempat Rusdi kerja jadi heboh. Orang – orang berkasak – kusuk tentang kelakuan Rusdi yang kemarin berlagak gila dan membuat onar. Sementara itu, Rusdi divonis oleh dokter menderita Schizofrenia Paranoid.

Wacil Rakyat

Wacil Rakyat
(Menyambut masa jabatan baru para wakil rakyat)
Ahmad-Yunus

Ruang sidang yang megah itu tampak lengang. Sedikit sekali manusia – manusia terhormat yang mewakili rakyat itu hadir pada sidang kali ini. Padahal, agenda sidang kali ini adalah soal rakyat.
Sedari awal sidang, sudah berkali – kali Situloyo menguap. Politikus yang satu ini terbilang veteran di gedung dewan. Ia sudah jadi wakil rakyat sejak orde paling lama sampai saat ini, orde paling baru. Menjadi orang yang selalu terapung di tengah gelombang.
Sebagai wakil rakyat yang paling banyak makan asam garam, baginya sidang – sidang soal rakyat memang menjemukan. Sungguh memuakkan dan menjengkelkan, membuat kesal saja. Lebih baik sidang yang banyak komisinya, lebih banyak ang pao yang masuk kantong jas safari.
Gemerlapnya cahaya lampu yang berkilauan, tak mampu membendung rasa kantuknya. Matanya mulai merem – merem ayam. Perut gendutnya menelusup di kursi empuk. Penglihatannya kabur, matanya memejam. Ia sudah terbang melayang ke dunia mimpi.
***
Situloyo membuka mata. Gelap. Sangat gelap. Ia kini tak tahu berada di mana.
Kreeekk. Terdengar suara begitu nyaring. Seperti suara pintu besi berkarat yang ditarik paksa. Memekakkan telinga dengan kebisingan yang sangat.
Seberkas cahaya hadir dari sela - sela pintu itu. Cahayanya menyilaukan pandangan Situloyo. Ia tak kuasa menahan rasa herannya saat ia buka mata lagi dan mengetahui di mana kini ia berada.
Jeruji besi yang kokoh dililiti kawat berduri terpampang di hadapannya. Mengurungnya dengan ketat tanpa ampun. Ia kini berada dalam sel bawah tanah yang pengap dan bau busuk.
Ada apa ini? Kenapa aku yang punya jabatan dan kekuasaan ada di tempat seperti ini? Tanyanya heran dalam hati.
Tiga orang yang tadi membuka pintu mendatanginya. Satu orang memakai pakaian putih – putih dengan wajah sangat bersih. Sementara dua orang lagi memakai baju penjaga dan berwajah sangar dengan kumis lebat membaplang.
“Kau Situloyo?” Tanya lelaki yang berwajah bersih.
“Iya. Benar aku Situloyo. Aku mau tanya, kenapa aku ada di sini? Kau tahu siapa aku? Aku adalah wakil rakyat. Aku pejabat. Tak pantas bagiku ada di sini. Cepat keluarkan aku!” Bentak Situloyo marah.
Lelaki berwajah dingin itu malah menyiringai menanggapi bentakan Situloyo. Dengan tenang ia menjawab. “Itu dulu. Tapi kini, kau adalah tahanan. Kau itu pesakitaan. Tak pantas orang sepertimu membentakku.”
“Berani benar kau padaku. Awas kalau aku bebas. Kau akan kupecat.” Bentak Situloyo tak dapat menahan emosinya.
“Kau itu bersalah. Para saksi untuk kasus – kasusmu telah antri untuk memberikan testimoninya. Jadi tak mungkin kau akan bebas dari persidangan ini. Pengadilan di sini bukan pengadilan yang ada di negerimu, yang keputusan pengadilan agak rahasia dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual beli.” Jawab seorang penjaga yang menggenggam gada besi.
“Apa?” Hati Situloyo jadi ciut mendengar jawaban penjaga itu. Ia seperti tak punya keberanian untuk menyombongkan diri lagi. “Tapi, apa salahku sampai aku ada di sini?” Tanya Situloyo setengah mengiba.
“Kau pingin tahu?” Sahut lelaki berwajah bersih. “Sebentar lagi kau akan tahu sendiri apa kesalahanmu.” Lanjutnya sambil berlalu meninggalkan Situloyo. “Pengawal, bawa dia!” Serunya.
Dengan gagah, kedua pengawal itu menggelandang Situloyo. Harga diri Situloyo benar – benar hancur. Ia digelandang dengan kedua kaki dipasang gelang kaki India dan dirantai yang ujungnya bola besi. Diarak keliling kota seperti binatang sirkus. Rasanya sangat malu. Ia yang seorang pejabat tinggi dan orang penting diperlakukan seperti itu.
Sampailah di alun – alun kota . Semua masyarakat telah tumpah ruah di sana . Sebentar lagi pengadilan sakral akan dimulai, dengan Situloyo sebagai pesakitannya.
Situloyo dimasukkan ke dalam kerangkeng besi yang sekililingnya dililiti kawat berduri. Ia seperti anjing budukkan yang diperlakukan sangat hina dina.
Si lelaki berwajah bersih maju ke muka hakim. “Yang mulia hakim, Si tergugat Situloyo sudah ada di sini. Sidang siap dimulai.” Lapornya.
“Imterupsi, pak hakim.” Teriak Situloyo menyela. “Kalau ini persidangan, ini tak adil! Ini tidak fair! Saya harus didampingi pengacara.” Lanjutnya berontak.
“Hey Sitiloyo, itu tak berlaku bagimu dan dalam persidangan ini. Kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu sendiri.” Kata sang hakim menolak permintaan Situloyo.
“Kau tahu, Situloyo? Kau ada di sini dengan tuduhan pengingkaran amanat rakyat, korupsi, penyalahgunaan jabatan, menerima suap dan membohongi rakyat.” Lelaki berwajah bersih menyela.
“Apa? Itu tidak benar!” Teriak Situloyo tak terima. Ia pernah menerima penghargaan sebagai wakil rakyat yang merakyat.
“Situloyo, orang – orang yang ada di sini adalah para saksi untuk kasusmu.” Kata lelaki berwajah bersih yang bertindak sebagai jaksa penuntut.
“Siapa mereka? Aku tak kenal dengan rakyat – rakyat itu.” Tanya Situloyo heran.
“Mereka adalah orang – orang yang selalu kau atas namakan. Merekalah orang – orang yang terus kau tipu dan kelabui dengan segala keserakahanmu.”
“Tidak! Itu tidak benar! Aku selalu berjuang untuk rakyat. Aku kerja keras untuk mereka sampai pernah kerja sehari semalam demi rakyat.” Kata Situloyo sedih. Terpukul sekali tampaknya ia.
“Bohong, Pak hakim. Itu hanya dusta.” Teriak seorang bocah menyela.
“Hey, siapa kau? Berani bicara seperti itu.” Bentak Situloyo marah.
“Dia adalah saksi untuk kasusmu.” Sahut sang jaksa menyela.
“Benar Pak hakim. Saya kan memberikan kesaksian saya. Dulu dengan keadaan lemas dan perut yang sangat lapar karena sudah satu minggu belum makan, saya mengemis dan meminta pada bapak itu yang baru keluar dari hotel berbintang tujuh sekedar sedekahnya. Saya malah dicaci maki dan diludahinya. Katanya, “Dasar anak tengik tak tahu diuntung, saya sudah bekerja keras seharian untuk kamu!” kemudian tanpa rasa berdosa ia menendang saya dan berlalu pergi dengan mobil Ferrarinya.” Bocah itu memberikan kesaksiannya.
“Benar itu, Situloyo?” Tanya hyakim memnggelegar.
Aneh. Mulut Situloyo terkunci. Ia tak bisa membantah ucapan bocah itu. Tiba – tiba lidahnya menjulur keluar dan berkata, “Benar, saya dipake unuk membentak dan meludahi anak itu.”
Lalu kaki kanan Situloyo menendang dan bersuara. “benar, saya dipake untuk menendang bocah itu.”
Muka Situloyo memerah. Ia tak bisa mengerti dengan semua ini. Ia tak bisa angkat bicara. Ia ingin mengelak dan berkata tidak, walaupun itu harus berdusta.
“Situloyo, kau juga digugat karena telah melakukan korupsi dan menyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri.”
“Tidak! Itu tidak benar!” Teriak Situloyo sekuat tenaga. Kali ini ia bisa bicara lagi. “Aku malah sering melakukan sedekah saat negeriku tertimpa bencana.” Bantahnya.
“Alah, itu hanya kebohongan publik. Mana ada orang yang berjuang untuk rakyat menghadiahi dirinya sendiri dengan rumah seharga dua milyar, lima mobil Ferrari, satu pesawat jet, berhektar tanah di tujuh kota .” Bantah Sang jaksa.
“Itu semua adalah pemberian Negara sebagai insentif jabatan.” Kilah Situloyo.
“Hmm. Seperti itu. Saya ingin bertanya padamu Situloyo. Apakah kau telah melakukan korupsi dan penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan diri sendiri?” Tanya Sang hakim dengan mimik sangat serius.
Situloyo ingin bersuara, tapi mulutnya kembali terkunci. Tiba – tiba saja tangan kanannya angkat jari. “Kami yang telah menandatangai proyek – proyek itu, dan itu memang benar!” Kata telunjuk dan ibu jari Situloyo memberikan kesaksian.
“Dan tangan ini juga telah menerima berjuta – juta komisi, uang suap, uang proyek dan segala macam upeti.” Kata telapak tangan Situloyo bersuara.
Kesaksian demi kesaksian terus diberikan pada muka pengadilan sakral itu. Semuanya memberatkan Situloyo. Dan Situloyo tak dapat mengelak dari semua yang pernah dilakukannya.
“Situloyo, apalagi yang akan kau katakana. Semua bukti telah jelas menunjukkan kau bersalah!?” Ujar sang Jaksa.
Wajah Situloyo memerah. Airmatanya yang sebesar kelereng bercampur darah menetes dari kelopak matanya. Ia tampak menyesal. Ia telah menyadari kesalahannya. “Saya mengaku bersalah. Monoloyalitasku sebenarnya pada uang. Sila dasarku pada Keuangan yang maha esa. Ideologiku begitu jelas, ideologi rupiah. Dan asas tunggalku memang keserakahan.” Kata Situloyo terisak menumpahkan semua rasa sesalnya. “Saya menyesal. Ampunilah saya!” Pinta Situloyo mengiba – iba.
“Hey Situloyo, simpan sedu sedan itu. Itu tak berguna. Berdasarkan dengan segala barang bukti dan kesaksian yang meyakinkan, kau bersalah!” Kata sang jaksa. “Kau patut dihukum.” Lanjutnya. “Yang mulia hakim, mohon untuk memutuskan.” Pintanya pada hakim.
“Baiklah. Setelah mendengarkan semua kesaksian yang ada. Situloyo telah terbukti bersalah. Maka, ia dijatuhkan hukuman dilempar ke sungai api.” Kata sang hakim dengan suara menggelegar menjatuhkan hukuman pada Situloyo.
Situloyo yang mendengar itu langsung lemas. Ia tak kuasa menahan ketakutan. Saking takutnya, pandangannya menjadi kabur. Semua jadi gelap dimatanya.
***
Persidangan wakil rakyat dengan agenda soal rakyat itu masih berjalan. Suaranya yang riuh rendah tak membuat para wakil rakyat yang telah terlelap menjadi terjaga. Mereka masih asyik dengan bunga tidurnya masing – masing.
Sementara, di luar sidang, di perempatan jalan dekat gedung dewan, seorang bocah menyandang gitar usangnya menahan dingin gerimis. Denga suara sedikit sumbang sambil ditemani petikan gitar, ia bernyanyi;
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat.