Rabu, 03 Februari 2010
Sayap Patah Cintaku
Kamis, 03 Desember 2009
Malaikat di kota Kematian
Mengenang 1 Tahun Agresi keji Israel ke Jalur Gaza Palestina
Malaikat di kota Kematian
Ahmad-Yunus
Desauan angin gurun ini bagaikan denting dawai – dawai lara. Begitu pilu dan mencekam. Bersimfonikan lagu kematian. Sesekali diselingi gelegar besar yang menggetarkan bumi. Lalu asap hitam tebal mengepul tinggi dan puing – puing pun gugur berserak.
Gaza retak. Hancur berkeping terserak. Ia ditangisi alam begitu sendu. Meraung – raung ambulans yang tak pernah henti lalu lalang, penuh korban luka, tak jarang mayat – mayat tak utuh dan terbelah.
Gaza kini menjelma bagai kota kematian. Pengap bau amis dan banjir merah darah. Hari – demi hari selalu jatuh korban di tanahnya. Dan malaikat Maut hilir mudik menjemput jiwa – jiwa letih. Entah sampai kapan?
“Biadab!” teriak Layla geram diikuti kepal kedua tangannya mengadu meja dengan keras.
Tatapan wanita berjiblab itu nanar. Matanya basah. Hatinya begitu terpukul dengan apa yang dilihatnya. “Ini pasti senjata kimia. Begitu keji mereka membunuh warga – warga tak berdosa bukan hanya dengan dengan rudal dan bom, tapi juga senjata kimia.”
Layla kembali menatap anak kecil yang terbaring di depannya. Bocah itu terlelap dangan kondisi sangat memprihatinkan. Wajah babak belur, kumal penuh debu dan darah. Tapi, yang lebih menyayat hati Layla, adalah mata bocah itu dan kedua kakinya. Kedua matanya buta dan kedua kakinya hrus diamputasi akibat luka bakar sangat parah, luka bakar serius sampai ke tulang yang ia prediksi berasal dari bahan kimia.
Melihat anak itu bayangnya melayang jauh meninggalkan Gaza. Kembali ke rumah mungilnya di Indonesia. Sosok Fatih berlari – lari dengan riang dan si kecil Nadya merangkak ke arahnya.
Layla tersenyum. Ia begitu rindu anak – anaknya. Di lihatnya kembali anak kecil yang sedang dirawatnya itu. Mata Layla langsung gerimis menatapnya, serasa itu Fatih, anaknya sendiri yang terbaring dengan kondisi mengenaskan seperti itu. Ibu mana yang tidak akan tersayat hatinya melihat sang buah hati terkapar penuh luka? Ibu mana yang tega tertawa dengan penderitaan anak – anak kecil korban perang?
Para ibu di Palestinalah yang merasakan betapa pedihnya kehilangan anak. Setia dengan duka nestapa bertahun – tahun. Ketika ibu – ibu di belahan dunia lain menyisir dan mengelus kepala anak - anak mereka dengan penuh kasih sayang sebelum sekolah. Para ibu di Gaza mengusap kepala anak – anak mereka yang merah sebelum pemakaman. Dan Layla sangat tahu itu.
“Madame Layla,” panggil dokter Sawqi membuyarkan perhatian Layla. “Maaf, minta bantuannya segera,”
“Iya, dok” sahut Layla sigap. Segera ia beranjak dari tempatnya. Lalu wanita berjilbab lebar itu berjalan tergesa – gesa mengejar langkah dokter Sawqi.
“
“Sekolah PBB tempat warga mengungsi di bom
“Apa?” Layla terpenjat keget. Gigi – giginya bergemeretak. Tangannya mengepal keras. Biadab!, desah Layla dalam hati.
***
Peluh mengucur deras dari dahi Layla. Ia rasakan matanya begitu perih. Merah padam. Waktu istirahatnya sangat kurang semenjak bertugas di sebuah rumah sakit di kota Gaza. Tapi, ada sebuah rasa yang begitu menggebu dan terus menerus memberikan tenaga tambahan untuknya. Entah rasa apa itu? Ia tak peduli! Yang terpenting baginya adalah memberikan pertolongan terbaik untuk warga Gaza.
Dari waktu ke waktu Layla jadi begitu akrab dengan kondisi serba darurat. Tak ada air bersih, tak ada kasur, tak ada makanan dan tak ada hidup yang nyaman. Aroma perang pun akrab menjadi teman. Ledakan bom, raungan ambulans, tangisan korban, dan tatapan bisu tubuh lemah tak berdaya.
Layla Kamil, itu nama yang diberikan kedua orang tuanya. Dokter lulusan sebuah universitas ternama di Indonesia. Seorang dokter wanita yang menyerahkan seutuh usianya untuk jadi relawan. Ingin berarti bagi manusia dan kemanusiaan.
Ia adalah satu – satunya wanita yang berangkat ke Gaza untuk menjadi relawan bersama tiga orang lainnya dari sebuah lembaga kemanusiaan. Tepat, satu minggu setelah agresi militer Israel ke Jalur Gaza. Dan satu – satunya relawan yang berhasil masuk ke Gaza lewat terowongan bawah tanah tepat sebelum Israel menjatuhkan bomnya yang langsung mengubur rata terowongan bawah tanah itu, sementara tiga temannya tertahan dan tidak bisa masuk Gaza, mereka pun akhirnya kembali dan tertahan di perbatasan. Jangan harap bisa masuk Gaza lewat jalur resmi.
“Bila ada sesama manusia yang terjepit, apalagi dalam kondisi perang, tanpa ada yang peduli dan mereka diabaikan, misi kemanusiaan akan tetap dilakukan dengan segela resikonya. Tak peduli apapun itu termasuk nyawa.”
Begitu tekad Layla, saat melihat kondisi yang sangat memprihatinkan di Gaza lewat layar televisi. Dan ia segera memenuhi penggilan kemanusiaan itu.
***
Korban terus berjatuhan. Gaza semakin mencekam. Tak ada satu tempat pun yang aman di Gaza. Dan tiada yang bisa membuka blokade Israel selain roh, arwah para korban yang terbang tinggi menembus batas.
Dan dunia kelu. Tak ada suara lantang dari pimimpinan dunia yang menentang. Apalagi pembelaan yang dilakukan oleh Negara yang menyebut dirinya sebagai kampiun demokrasi dan pahlawan HAM.
“Ke mana mereka? Tak lihatkah di sini begitu mencekam. Nyawa manusia begitu tak berharga untuk hidup. Masih belum cukupkah korban jiwa yang jatuh?” kata Layla begitu emosional saat wawancara dengan wartawan sebuah televisi yang meliput kondisi
Layla begitu geram. Tak punya hatikah mereka? Tak mengertikah mereka jikalau panggilan kemanusiaan harus dijawab.
***
Tragisnya, obat bius sudah tak bersisa. Terpaksa semua korban perang yang dirawat harus merasakan pedihnya operasi. Menahan rasa sakit saat pisau bedah merobek kulit dan menyayat daging. Sementara obat – obatan yang lainnya, jumlahnya terus menipis. Rumah sakit pun tak ubahnya tenda darurat tanpa kasur. Kondisi yang sangat menyakitkan bukan hanya bagi para korban, terlebih Layla yang merawat korban – korban itu. Kondisinya sangat tragis, tak seperti prosedur – prosedur yang ia dapatkan di bangku kuliah.
Apalagi kini, serangan
Layla terpaksa dievakuasi. Ia dipindahkan ke rumah sakit lain yang tidak di serang
Mobil ambulans yang ditumpangi Layla dan beberapa pasien sekarat itu tiba – tiba berhenti di tengah perjalanan. Ketakutan langsung menyergap semua pemupang mobil itu. Lalu cacian meluncur deras dari luar mobil, menyuruh dengan kasar semua orang yang ada di dalamnya untuk keluar. Layla beserta penumpang ambulans keluar dari mobil. Ternyata mobil mereka diberhenkan dengan paksa oleh pasukan Israel.
“Kau dokter?” tanya seorang serdadu
“Iya,” jawab Layla.
“Cepat tolong teman kami yang kena peluru!” bentak serdadu itu pada Layla.
Layla melihat seorang serdadu
Layla kelu. Berbagai rasa berjejal dalam rongga dadanya. Ingin sekali ia mengabil batu yang tergeletak di dekatnya. Lalu batu itu ia hujamkan ke kepala serdadu
Tiba – tiba saja Layla terbang. Ia melayang. Terbang melintasi bumi.
Rumah. Ini rumahku, bisik Layla dalam hati. Dilihatnya Fatih tengah asyik mendengarkan cerita Abinya.
”Ada Ali bin Abi Thalib yang tidak mau membunuh musuhnya karena musuh ini meludahinya. Ali takut kalau dia membunuh musuhnya itu karena didasarkan balas dendam.”
Layla tersentak. Ia kaget. Lalu pikirnya kembali melayang jauh ke masa lalu. Ia kembali ingat petuah dari dokter Rijal saat masuk jadi relawan
”Ingat bahwa dalam memberikan pertolongan apa yang kita berikan berdasarkan urgensi. Tidak lihat latar belakang agama, etnik, ataupun politik.”
Layla tergugu. Ia diam membatu.
”Hei, cepat tolong teman kami!” teriak salah serdadu sambil memukulkan senjatanya ke bahu Layla.
”Akh...”
Layla membuka peralatannya. Ia biarkan rasa sakitnya akibat pukulan serdadu Israel. Dengan cermat ia tolong serdadu israel yang tengah terluka itu. Tak peduli betapa kejinya mereka membunuhi rakyat Gaza. Karena pertolongan harus diberikan berdasarkan urgensinya, bukan dendam dan amarah.
“Untuk apa luka ini? Untuk keutungan siapa semua duka ini?,” Layla terus bertanya tanpa ada yang bisa jawab. Sementara langit
Januari 09
Inspirasi dari sebuah wawancara dr. Jose Rijal Jurnalis
Minggu, 01 November 2009
lomba film, komik, esai dan resensi film di UI BOOK FAIR 2009
Formasi FIB UI mempersembahkan Rangkaian acarqa UI BOOK FAIR 2009.adapun untuk lomba adalah sebagai berikut:
Film Pendek
Terbuka untuk umum, baik perorangan ataupun kelompok (maks. 3 orang)Bukan merupakan film dokumenter dan bukan merupakan kumpulan slide foto maupun video klip musik.Film yang diikutsertakan berdurasi 7-15menitFilm yang dikirimkan bukan merupakan hasil rekaman dari hand phone.Film yang diikutsertakan belum pernah memenangkan kompetisi atau
festival film lain dan bukan merupakan karya yang meniru film lain
(dalam hal isi cerita) dan boleh merupakan produksi sebelum tahun 2009.Tidak mengandung unsur SARA dan fornografiPeserta mengirimkan identitas singkat dan nomor yang dapat dihubungiBiaya Pendaftaran Rp 20.000
Komik Islami
Ketentuan Umum :
1.Peserta terbuka untuk umum
2. Peserta lomba adalah perorangan
3. Karya yang diikutsertakan dalam lomba ini harus karya asli, bukan
saduran atau jiplakan atau mengambil karakter dan cerita dari komik
yang sudah ada.
4. Karya belum pernah dilombakan/ diterbitkan/ dipamerkan.
5. Peserta mengirimkan identitas singkat dan nomor yang dapat dihubngi
Ketentuan Teknis :
1. Komik dibuat di atas kertas ukuran A4 (vertikal), tidak diperkenankan menggambar di kedua sisi kertas (bolak-balik) .
2. Jumlah keseluruhan 10 halaman termasuk cover. Jumlah dan ukuran gambar dalam setiap halaman bebas.
3. Teknik gambar dan pewarnaan bebas.
4. Komik dilengkapi dengan teks singkat dan menggunakan bahasa
5. Komik tidak menyangkut unsur SARA dan pornografi.
6. Komik dikirimkan dalam bentuk hard copy
Resensi Novel
Ketentuan:
Merupakan karya orisinil/ buka jiplakanPanjang resensi minimal 1 halaman A4.Font TNR, size 12 spasi 1.5, semua margin 3 cm.Novel yang diresensi bebas (pilih salah satu) Karya Darwis Tere-Liye.Lomba dapat dikirim via email : ui.book.fair@ gmail.com Peserta mengirimkan identitas singkat dan nomor yang dapat dihubungi
Esai
Karya belum pernah dipublikasikan sebelumnya.Format kertas A4, Font TNR, size 12, spasi 1.5, semua margin 3 cmPeserta lomba adalah perorangan.Bukan karya jiplakan, saduran, dan terjemahan.Panjang naskah 3-6 halaman.lomba dapat dikirim via email : ui.book.fair@ gmail.comPeserta mengirimkan identitas singkat dan nomor yang dapat dihubungi
Batas Maksimal Pengiriman Lomba Tanggal 21 November 2009
Pengumuan lomba : tanggal 24 November 2009 (acara puncak UI Islamic Book Fair)
NB: untuk Lomba Film dan Komik kami tidak menerima kiriman via email
tetapi langsung ke stand lomba UI Islamic Book Fair di Musholla
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (Senin-Jumat,
pukul 09..00-18.00 WIB)
CP : 085693080124 / 085287972964
*Jika ada perubahan dari pengumuman ini akan segera di update oleh admin.
Dan apabila ada pertanyaan terkait lomba dapa di kirimkan via email : ui.book.fair@ gmail.com atau FB Formasi FIB UI
Minggu, 25 Oktober 2009
Cinta Itu Memang Aneh...
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
catatan penulis: nih cerpen sebenarnya udah lama nulisnya. waktu terinfeksi virus merah jambu. tapi direvisis lagi pertengahan tahun 2007. untungnya aku ditolak. he.. he.. orang aneh, ditolak malah seneng.
Senin, 05 Oktober 2009
fitur-fitur google yang bisa membantu anda dalam pencarian informasi
1. Google dapat menjadi kalkulator.
ketik soal matematika ke dalam kotak pencarian maka goggle akan mengolahnya. anda dapat menuliskan persamaan atu sola dengan kata – kata (two plus two, twelve devided by three), menggunakan angka – angka dan simbol (2+2, 12/3), atau mengetikkan kombinasi keduanya.
2. Goggle dapat menjadi kamus
ketik define diikuti kata apapun dalam bahasa inggris ke dalam kotak pencarian, maka goggle akan memberi anda sebuah definisi yang cepat dibagian atas hasil pencarian. (define book), (define: crazy)
3. menjelajahi rak buku di dunia secara online
carilah sebuah topik di print.goggle.com maka anda akan melihat informasi dari buku – buku aktual yang telah dipindai dan diindeks oleh goggle dalam datebase-nya. anda dapt membuka – buka atau membaca seluruh teks asal karya bersangkutan tidak dilindungi hak cipta. sampai – sampai buku The History of Java karya Rafless juga ada.
4. Peta, petunjuk jalan, dan pemandangan dari satelit cukup satu kali klik
cara paling cepat untuk menemukan jalan paling cepat ke tujuan anda adalah memasukkan nama kota dan negara bagian atau cukup kode pos ke dalam kotak pencarian
contoh: washington dc, maka goggle akan menyediakan sebuah link langsung ke layanan peta dan petunjuk jalannya sendiri, maps.goggle.com
| Reaksi: |



